Amelia R
14 September 2023 11:35
Amelia R
14 September 2023 11:35
Pertanyaan
1
1
Rendi R

Community
14 September 2024 10:48
Berikut penjelasan terkait tiga poin pertanyaan yang diajukan:
1. Perubahan Penggunaan Singular Menuju General Event dalam Penelitian Sejarah
Perubahan penggunaan singular menuju general event dalam penelitian sejarah merujuk pada perkembangan metodologi dan pendekatan dalam meneliti peristiwa sejarah. Singular event merujuk pada peristiwa tunggal atau kejadian khusus yang biasanya dipelajari secara mendetail, sementara general event berfokus pada pola umum dari peristiwa yang lebih luas.
Perubahan ini terjadi karena beberapa alasan:
Contoh penerapan: Dalam sejarah perang, pendekatan singular akan berfokus pada satu pertempuran atau tindakan tokoh tertentu, sementara pendekatan general event akan melihat pola-pola strategi perang, dampak sosial-ekonomi dari perang tersebut, atau perubahan politik yang muncul sebagai akibat dari perang itu.
2. Batas Penggunaan Objektivitas dalam Penulisan Sejarah
Objektivitas dalam penulisan sejarah adalah prinsip yang menuntut sejarawan untuk menulis dan menganalisis fakta-fakta sejarah dengan cara yang bebas dari prasangka pribadi, bias ideologis, atau interpretasi yang menguntungkan satu pihak. Namun, ada batasan dalam penerapan objektivitas ini karena beberapa alasan:
Interpretasi fakta: Sejarawan tidak hanya sekadar mengumpulkan fakta-fakta, tetapi juga harus menginterpretasikan makna dari fakta-fakta tersebut. Interpretasi ini sering kali dipengaruhi oleh latar belakang penulis, termasuk pandangan politik, budaya, atau nilai-nilai yang mereka anut. Oleh karena itu, objektivitas sepenuhnya sulit dicapai karena sejarawan selalu menafsirkan peristiwa.
Keterbatasan sumber: Sumber sejarah yang tersedia sering kali terbatas, baik dari segi jumlah maupun perspektif. Banyak sumber yang tersedia mungkin hanya mewakili sudut pandang pihak yang berkuasa, sementara pandangan dari kelompok-kelompok lain kurang terdokumentasikan. Akibatnya, penulisan sejarah cenderung tidak sepenuhnya objektif, karena tergantung pada sumber yang digunakan.
Subjektivitas dalam memilih sumber: Dalam penelitian sejarah, sejarawan harus memilih sumber mana yang dianggap relevan dan dapat dipercaya. Proses ini sangat subjektif karena setiap sejarawan mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang mana sumber yang lebih penting atau lebih akurat.
Perubahan perspektif sejarawan: Objektivitas juga dapat dibatasi oleh perkembangan pemikiran sejarawan itu sendiri. Sejarawan masa kini mungkin memiliki pemahaman yang berbeda dari sejarawan masa lalu mengenai apa yang dianggap penting dalam sejarah, sehingga penulisan sejarah akan berubah seiring waktu, mengadopsi sudut pandang baru.
Kesimpulannya, meskipun objektivitas tetap menjadi ideal dalam penulisan sejarah, sejarawan dihadapkan pada batasan-batasan yang membuat penulisan sejarah selalu berada dalam zona interpretasi subjektif. Oleh karena itu, objektivitas sejarah memiliki batas, terutama terkait pemilihan sumber, interpretasi peristiwa, dan konteks sosial-budaya yang mempengaruhi sejarawan.
3. Pengertian Sejarah Saintis (Positivistik) dan Kritis
Sejarah Saintis (Positivistik): Pendekatan positivistik dalam sejarah berkaitan dengan pandangan bahwa sejarah adalah ilmu yang bisa dipelajari dengan metode ilmiah, mirip dengan disiplin ilmu alam seperti fisika atau kimia. Dalam pendekatan ini, sejarah dipandang sebagai serangkaian fakta yang bisa dikumpulkan, dianalisis, dan disusun secara objektif.
Ciri-ciri pendekatan sejarah saintis/positivistik:
Sejarah Kritis: Sejarah kritis menekankan pada penggunaan metode yang kritis dalam menganalisis sumber-sumber sejarah. Sejarawan kritis tidak hanya mengumpulkan fakta, tetapi juga mengkaji keabsahan dan reliabilitas sumber-sumber sejarah yang digunakan. Selain itu, sejarah kritis juga memperhitungkan konteks sosial, politik, dan ideologis di balik fakta-fakta sejarah.
Ciri-ciri pendekatan sejarah kritis:
Kesimpulannya, pendekatan sejarah saintis berfokus pada pengumpulan dan pengolahan fakta secara empiris dan objektif, sedangkan sejarah kritis berupaya untuk memahami sumber-sumber sejarah secara lebih mendalam dengan mempertimbangkan konteks sosial, ideologi, dan interpretasi. Sejarah saintis cenderung mengabaikan subjektivitas, sementara sejarah kritis mengakui bahwa penulisan sejarah selalu melibatkan subjektivitas dan interpretasi yang harus diakui dan diteliti.
· 0.0 (0)
Tanya ke AiRIS
Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

LATIHAN SOAL GRATIS!
Drill Soal
Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian


Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!