Maiza N

17 Mei 2024 13:42

Maiza N

17 Mei 2024 13:42

Pertanyaan

5. Ibu Rika membeli oleh-oleh makan khas kota Yogyakarta yaitu Bakpia Bakar kacang Hijau yang berbentuk Prisma segi empat dengan ukuran 30 cm x 10 cm x 10 cm. Ibu Ani ingin membuat kejutan untuk putrinya untuk membungkus makanan khas tersebut dan dibelikan kertas kado dengan ukuran 50 cm x 40 cm. a) 300 cm b) 500 cm c) 600 cm d) 400 cm

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

09

:

14

:

07

Klaim

1

1


Kevin L

Gold

19 Mei 2024 04:13

Diketahui: - Ukuran Bakpia Bakar kacang Hijau: 30 cm × 10 cm × 10 cm - Ukuran kertas kado: 50 cm × 40 cm Langkah 1: Menghitung keliling Bakpia Bakar kacang Hijau Keliling prisma segi empat = 2 × (panjang + lebar + tinggi) Keliling Bakpia = 2 × (30 cm + 10 cm + 10 cm) Keliling Bakpia = 2 × 50 cm = 100 cm Langkah 2: Menghitung panjang kertas kado yang diperlukan Panjang kertas kado = 2 × keliling Bakpia Panjang kertas kado = 2 × 100 cm = 200 cm Jadi, panjang kertas kado yang diperlukan untuk membungkus Bakpia Bakar kacang Hijau adalah 200 cm. Penjelasan: Untuk membungkus Bakpia Bakar kacang Hijau, Ibu Ani perlu kertas kado yang cukup untuk menutupi seluruh permukaan Bakpia. Oleh karena itu, panjang kertas kado yang diperlukan adalah dua kali keliling Bakpia, yaitu 200 cm. Dengan demikian, jawaban yang benar adalah c) 600 cm.


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Identitas Buku Judul : Sang Pemimpi Penulis : Andrea Hirata Penerbit : PT Bentang Pustaka Halaman : x + 292 Halaman Cetakan : ke-14, Januari 2008 Jenis Sampul : Soft Cover Dimensi(L x P) : 130x205mm Kategori : Petualangan Harga : Rp 40.000 Text : Bahasa Indonesia ISBN : 979-3062-92-4 Keterangan novel: Andrea Hirata, lahir di Belitong. Meskipun kuliah utamanya Ekonomi, ia amat menggemari pelajaran IPA seperti Fisika , Biologi, Kimia, Astronomi, dan tentu saja Sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan Ekonomi di Universitas Indonesia.Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Universite de Paris , Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan lulus cumlaude. Tesis itu telah di adaptasi ke dalam bahasaindonesia dan merupakan buku Teori Ekonimi Telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom Indonesia. Novel ini bercerita tentang tiga orang pemimpi, Ikal, Arai dan Jimbron. Setelah tamat SMP mereka melanjutkan ke SMA Bukan Main, di sinilah perjuangan me-reka dimulai. Ikal adalah salah satu dari anggota Laskar Pelangi.Sementara Arai yang merupakan saudara sepupu Ikal yang sudah yatim piatu sejak SD tinggal di rumah Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah dan Ibu Ikal. Kemudian Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun, pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat. Arai dan Ikal begitu pintar di sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan lkal dan Arai selalu menjadi lima dan tiga besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan belajar ke Sorbonne Perancis . Mereka terpukau dengan cerita Pak Balia, kepala sekolahnya, yang selalu meyebutnyebut indahnya kota itu. Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun kalau di logika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan. Selesai SMA, Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan lkal sampai di Ferancis, maka jiwa jimbron pun akan selalu bersama mereka . Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, lkal diterima menjadi tukang sortir (tukang Fos) , dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi Ul. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa 52 ke Eropa . Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampai lah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar. Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan lkal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka, kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wiwancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-tahun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah dengan lkal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru. Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Fengumuman penerima Beasiswa ke Eropa . Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya . Arai sangat ingin membuka kabar itu bersama orang yang sangat dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Baik Arai maupun lkal, keduanya tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Setelah dibuka , hasilnya adalah Ikal diterima di Universitas Sorbone , Francis . Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Keduanya sama-sama lulus beasiswa kuliah di Francis. Dalam novel ini terdapat cukup banyak majas. Salah satunya adalah majas paradox yang terdapat pada halaman 30, "aku ingin tertawa sekeras-kerasnya , tapi aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya". Dalam novel ini pula, penulis tidak sekedar merangkai cerita tapi juga berusaha menyuntikan inspirasi kepada kembaca lewat kisah-kisah menyentuh. juga motivasi untuk bangkit. Simak kutipan berikut, "Arai melangkah menuju depan bak truk. la berdiri tegak di sana serupa orang yang berdiri di hidung haluan kapal. Felan-pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. la tersenyum penuh semangat. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. la telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya." Selain itu dalam novel ini kita diajak bersemangat menjalani hidup. Dibuktikan dengan kutipan berikut, "Seperti ucapannya padaku : Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati." Atau kutipan berikut, "Pak Belia mengakhiri sessionsore dengan menyentak semangat kami. 'Bangkitkah, wahai Para Pelopor!! Fekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!!" Pada sisi lainya juga pembaca disuguhkan pemahaman pentingnya kerja keras," setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bamboo, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pada pukul lima, sehingga pukul enam sudah bisa diserbu ibu-ibu." Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang dideskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang memlatarbelakangi pada setiap adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain dari pada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat. Selain itu banyak nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam novel ini. Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hanya penggunaan bahasa kiasan yang cukup banyak, sehingga bagi pembaca awam cukup kesulitan memahaminya. (Sumber: http://pri towindiarto.blogspot.co.id/2013108/hritih-novel-sang-pemimipil6.html dan http:..dolwmen.t ips!download/l in h!resensi-novel-sang-pemimpi dengan pengubahan) 2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! a. lnformasi apakah yang kalian dapatkan dari tanggapan novel tersebut?

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah cerpen berikut dengan cermat! Si Kopi Jur Karya Ani Lestari Bel sekolah baru saja berbunyi. Seluruh siswa yang baru sampai sekolah bergegas menuju kelasnya masing-masing. Mereka berbaris di depan kelas dengan rapih yang dipimpin oleh ketua kelas masing-masing. Tampak beberapa guru pun, telah siap menunggu mereka di pintu kelas sembari memperhatikan kerapian seragam para siswa sebelum masuk ke dalam kelas. Tidak berbeda dengan kelas 9-A. Seluruh siswa di kelas itu tampak mematuhi aba-aba dari ketua kelas. Setelah barisan rapi, satu persatu siswa masuk ke dalam kelas yang dibimbing oleh Bu Lesta. Bu Lesta adalah guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas 9-A. Setelah semua siswa duduk di tempatnya masing-masing, ketua kelas lalu memimpin doa. “Selamat pagi, Anak-anak!” kata Bu Lesta “Selamat pagi, Bu” jawab mereka kompak. “Baik, sebelum kita mulai pelajaran hari ini. Ada hal yang akan Ibu sampaikan. Sekolah kita saat ini mengadakan koperasi mini di kelas masing-masing. Jadi, di pojok kelas nanti akan disediakan beberapa alat tulis yang dibeli pakai uang kas kelas. Jika dari kalian ada yang kehabisan pulpen, buku, atau pensil, kalian bisa beli di dalam kelas saja.” Jelas Bu Lesta. Sang ketua kelas lalu mengangkat tangannya dan berkata, “Terus kita bayarnya ke siapa, Bu?” tanyanya. “Nah, nanti ada daftar harga dan kotak pembayaran. Uangnya dimasukkan ke dalam kotak pembayaran itu.” “Wah, kalau ada yang gak bayar gimana, Bu? Bisa-bisa rugi dong!” sahut salah satu siswa. Bu Lesta tersenyum. “Gimana ya caranya biar gak rugi?” tanya Bu Lesta. “Harus bayar sesuai daftar harganya, Bu!” jawab salah satu siswa yang lain. “Betul! Nanti, kalau semua alat tulis yang disediakan sudah habis. Kita akan hitung jumlahnya. Apakah sesuai atau kurang? Untuk langkah awal, kita beli satu kotak untuk masing-masing alat tulis. Kalau hasilnya baik, akan kita lanjutkan. Bagaimana? ” Terang Bu Lesta. “Baik, Bu!” jawab mereka. “Baiklah kalau gitu, nanti setelah pulang sekolah bendahara kelas bersama sekretaris beli barang-barangnya, ya.” tambahnya lalu melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. *** Keesokan harinya, koperasi mini kelas mereka sudah tertata rapih di pojok kelas dekat meja guru. Daftar harga setiap barang sudah dicetak dan ditempel di mading kelas yang terletak di atas meja koperasi mini mereka. Terlihat seluruh siswa tampat antusias dengan hasil akhir dari adanya koperasi ini. Bahkan, beberapa dari mereka banyak yang bercanda mengatakan bahwa mereka akan rugi. “Dikasih nama dong koperasinya!” sahut salah satu dari mereka. “Iya, kasih nama biar keren gitu!” sahut yang lain. “Namanya apa ya yang bagus?” kata ketua kelas. “Ehm.. Si Kopi Jur, gimana? Bagus kan?” sahut bendahara kelas. Seluruh siswa mengernyitkan keningnya. “Iya, kepanjangannya Si Koperasi Jujur” jelas si bendahara. “Wah iya! Bagus! Kedengarannya kereeeeen! Seperti kedai kopi gitu. Hahahha” sahut salah satu siswa yang disambung gelak tawa mereka. “Oke! Jadi kita kasih nama Si Kopi Jur.” Kata ketua kelas yang dibalas anggukan setuju siswa yang lain. Mereka lalu membuat papan nama untuk koperasi mini tersebut. Tak lama kemudian, Bu Lesta memasuki kelas. Ia ingin memastikan barang-barang yang akan di jual sudah tersedia dan bisa dijalankan hari ini. Ia berjalan mendekati meja kecil yang sudah ditata rapih itu. Kotak pembayaran yang terbuat dari kotak kecil yang dibungkus kertas kado dengan corak bunga itu berada di belakang barang-barang yang akan dijual. Ia tertegun dan tertawa kecil ketika melihat papan nama koperasi kelas itu. “Jadi, nama koperasi kelas kita Si Kopi Jur, ya.” Sahut Bu Lesta. “Iya, Bu! Kalau nanti kita rugi, namanya diganti Si Korup! Hahaha” sahut siswa laki-laki yang duduk paling belakang. Teman-temannya pun ikut tertawa. “Eiits! Makanya, kalian harus jujur bayarnya. Kalian gak malu kalau kelas kita ternyata rugi karena ada siswa yang gak jujur?” tanya Bu Lesta. “Malu lah, Bu!” jawab mereka. “Kalau gitu ayok kita buktikan kalau kelas kita tidak seperti itu” kata Bu Lesta. “Siap, Bu!” jawab mereka kompak. *** Hari-hari berlalu seperti biasa. Beberapa siswa sudah mulai menjalankan koperasi jujur di kelas mereka. Barang-barang yang tersedia pun mulai menipis. Tampaknya, seluruh siswa memang memilih membeli barang-barang di kelas mereka daripada harus keluar kelas dan membeli ke kantin sekolah yang jaraknya cukup jauh dari kelas mereka itu. Buku dan pulpen adalah barang yang paling banyak diburu. Sedangkan, pensil dan beberapa alat tulis yang lain masih terlihat banyak. Sesekali Bu Lesta melihat kondisi koperasi di kelas 9-A. Melihat antusias para siswa yang lebih suka membeli di koperasi mini kelas, membuatnya bangga. Jika, hasil akhirnya nanti baik, koperasi mini kejujuran ini akan dilanjutkan. Tiga minggu berlalu. Semua barang yang diperjualbelikan di koperasi mini kelas sudah habis. Seluruh siswa antusias dan penasaran dengan jumlah pemasukan yang berada di dalam kotak pembayaran itu. Beberapa siswa tampak berkumpul di sekitar meja koperasi mini kelas mereka. “Hari ini dibuka kan?” tanya sekretaris kelas pada ketua kelas. “Iya, hari ini dibuka sama Bu Lesta.” Jawabnya. Bel berbunyi, tanda masuk kelas. Seluruh siswa yang masih istirahat di luar kelas bergegas masuk ke kelas mereka masing-masing. Bu Lesta memasuki kelas 9-A yang disambut wajah-wajah antusias siswanya. Ia tersenyum lalu mengambil kotak pembayaran dan meletakkannya di atas meja guru depannya. “Gimana? Pensaran?” tanya Bu Lesta sembari membuka kota pembayaran yang berisi uang hasil penjualan koperasi kejujuran kelas. “Deg-degan , Bu!” sahut beberapa siswa. “Baik, sekarang kita jumlahkan dulu berapa harusnya hasil penjualannya.” Kata Bu Lesta. Setelah menjumlahkan total penjualan yang seharusnya didapatkan, Bu Lesta mengeluarkan uang dari kotak pembayaran. “Jadi, total penjualan kita seharusnya berjumlah tujuh puluh dua ribu rupiah. Sekarang kita hitung jumlah uangnya.” Kata Bu Lesta lalu menghitung uang pecahan dua ribuan itu. Seluruh siswa tampak sangat penasaran melihat Bu Lesta menghitung. Setelah selesai menghitung, Bu Lesta lalu berdiri di depan kelas. Ia diam beberapa saat. Melihat ekspresi Bu Lesta yang diam, seluruh siswa di kelas itu pun ikut diam. Beberapa siswa tampak berbisik-bisik. “Tuh kan, uangnya pasti kurang. Pasti ada yang gak bayar itu.” “Iya, Bu Lesta sepertinya kecewa.” Setelah menghela napas panjang, Bu Lesta lalu menyampaikan hasilnya. “Total uang yang di tangan ibu sekarang berjumlah tujuh puluh dua ribu rupiah!” kata Bu Lesta diikuti senyum. “Yeeeeeeeeaaayyy!” sorak seluruh siswa kelas 9-A. “Ibu bangga sama kejujuran kalian. Tetap dipertahankan sikap seperti ini, ya. Walaupun dimulai dari hal kecil seperti ini, kalau dilakukan terus menerus kalian akan terbiasa untuk melakukan tindakan jujur ini sampai dewasa nanti.” Kata Bu Lesta. “Baik, Bu!” jawab mereka kompak. Simpulkan unsur-unsur yang membangun karya sastra dalam cerpen Kopi Jur! No Unsur-unsur Simpulan dan Bukti Kutipan Cerpen 1 Tema 2 Alur 3 Penokohan 4 Latar 5 Sudut Pandang 6 Gaya Bahasa 7 Amanat 8 Sosial 9 Moral 10 budaya

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Identitas Buku Judul : Sang Pemimpi Penulis : Andrea Hirata Penerbit : PT Bentang Pustaka Halaman : x + 292 Halaman Cetakan : ke-14, Januari 2008 Jenis Sampul : Soft Cover Dimensi(L x P) : 130x205mm Kategori : Petualangan Harga : Rp 40.000 Text : Bahasa Indonesia ISBN : 979-3062-92-4 Keterangan novel: Andrea Hirata, lahir di Belitong. Meskipun kuliah utamanya Ekonomi, ia amat menggemari pelajaran IPA seperti Fisika , Biologi, Kimia, Astronomi, dan tentu saja Sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan Ekonomi di Universitas Indonesia.Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Universite de Paris , Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan lulus cumlaude. Tesis itu telah di adaptasi ke dalam bahasaindonesia dan merupakan buku Teori Ekonimi Telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom Indonesia. Novel ini bercerita tentang tiga orang pemimpi, Ikal, Arai dan Jimbron. Setelah tamat SMP mereka melanjutkan ke SMA Bukan Main, di sinilah perjuangan me-reka dimulai. Ikal adalah salah satu dari anggota Laskar Pelangi.Sementara Arai yang merupakan saudara sepupu Ikal yang sudah yatim piatu sejak SD tinggal di rumah Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah dan Ibu Ikal. Kemudian Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun, pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat. Arai dan Ikal begitu pintar di sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan lkal dan Arai selalu menjadi lima dan tiga besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan belajar ke Sorbonne Perancis . Mereka terpukau dengan cerita Pak Balia, kepala sekolahnya, yang selalu meyebutnyebut indahnya kota itu. Kerja keras menjadi kuli ngambat mulai pukul dua pagi sampai jam tujuh dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Meskipun kalau di logika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan. Selesai SMA, Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan lkal sampai di Ferancis, maka jiwa jimbron pun akan selalu bersama mereka . Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, lkal diterima menjadi tukang sortir (tukang Fos) , dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi Ul. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa 52 ke Eropa . Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampai lah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar. Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan lkal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka, kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wiwancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-tahun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah dengan lkal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru. Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Fengumuman penerima Beasiswa ke Eropa . Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya . Arai sangat ingin membuka kabar itu bersama orang yang sangat dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Baik Arai maupun lkal, keduanya tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Setelah dibuka , hasilnya adalah Ikal diterima di Universitas Sorbone , Francis . Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Keduanya sama-sama lulus beasiswa kuliah di Francis. Dalam novel ini terdapat cukup banyak majas. Salah satunya adalah majas paradox yang terdapat pada halaman 30, "aku ingin tertawa sekeras-kerasnya , tapi aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya". Dalam novel ini pula, penulis tidak sekedar merangkai cerita tapi juga berusaha menyuntikan inspirasi kepada kembaca lewat kisah-kisah menyentuh. juga motivasi untuk bangkit. Simak kutipan berikut, "Arai melangkah menuju depan bak truk. la berdiri tegak di sana serupa orang yang berdiri di hidung haluan kapal. Felan-pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan angin menerpa wajahnya. la tersenyum penuh semangat. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. la telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya." Selain itu dalam novel ini kita diajak bersemangat menjalani hidup. Dibuktikan dengan kutipan berikut, "Seperti ucapannya padaku : Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati." Atau kutipan berikut, "Pak Belia mengakhiri sessionsore dengan menyentak semangat kami. 'Bangkitkah, wahai Para Pelopor!! Fekikkan padaku kata-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!!" Pada sisi lainya juga pembaca disuguhkan pemahaman pentingnya kerja keras," setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bamboo, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pada pukul lima, sehingga pukul enam sudah bisa diserbu ibu-ibu." Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang dideskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang memlatarbelakangi pada setiap adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain dari pada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat. Selain itu banyak nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam novel ini. Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hanya penggunaan bahasa kiasan yang cukup banyak, sehingga bagi pembaca awam cukup kesulitan memahaminya. (Sumber: http://pri towindiarto.blogspot.co.id/2013108/hritih-novel-sang-pemimipil6.html dan http:..dolwmen.t ips!download/l in h!resensi-novel-sang-pemimpi dengan pengubahan) c. Sebutkan kelebihan novel tersebut!

11

4.0

Jawaban terverifikasi