Meisya S

29 November 2023 17:22

Meisya S

29 November 2023 17:22

Pertanyaan

beserta penjelasannya

beserta penjelasannya 

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

08

:

57

:

55

Klaim

1

1

Jawaban terverifikasi

Nanda R

Community

21 Juni 2024 12:59

Jawaban terverifikasi

<p>Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat. Pada masa Demokrasi Terpimpin di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, politik luar negeri Indonesia sebenarnya cenderung lebih mengambil jalan tengah (non-blok) dalam politik internasional. Hal ini tercermin dalam konferensi-konferensi Asia-Afrika yang diinisiasi oleh Indonesia, di mana Indonesia bersama dengan negara-negara non-blok lainnya menekankan kemerdekaan, anti-kolonialisme, dan perdamaian dunia.</p><p>Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia memiliki hubungan yang cukup baik dengan negara-negara Barat pada masa itu, meskipun tidak bisa dikatakan bahwa politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin "memihak" negara-negara blok Barat secara eksklusif. Beberapa faktor yang dapat dijadikan pertimbangan adalah:</p><p><strong>Hubungan Sejarah:</strong> Indonesia memiliki hubungan sejarah dengan beberapa negara Barat, terutama Belanda (sebagai mantan penjajah) dan Amerika Serikat (yang memberikan dukungan awal terhadap kemerdekaan Indonesia).</p><p><strong>Hubungan Ekonomi:</strong> Hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Barat dapat menjadi faktor penting dalam politik luar negeri. Indonesia saat itu masih memerlukan investasi dan bantuan teknis dari negara-negara maju untuk pembangunan ekonomi dan sosialnya.</p><p><strong>Dukungan Teknologi:</strong> Meskipun Sukarno terinspirasi oleh kemajuan teknologi dari Jerman dan Inggris, hal ini tidak secara otomatis mengarahkan Indonesia untuk "memihak" kepada negara-negara Barat dalam politik luar negeri. Indonesia pada saat itu juga menjalin kerja sama dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet dan Tiongkok dalam bidang teknologi dan pembangunan.</p><p>Jadi, sementara Sukarno dapat terinspirasi oleh kemajuan teknologi dari negara-negara Barat tertentu, hal ini tidak menjadikan politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin secara eksklusif "memihak" negara-negara blok Barat. Lebih tepatnya, Indonesia mengambil sikap non-blok yang aktif dalam upaya menjaga kemerdekaan, perdamaian, dan kerjasama internasional yang merdeka dari pengaruh blok-blok besar yang sedang bertentangan pada masa itu.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat. Pada masa Demokrasi Terpimpin di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, politik luar negeri Indonesia sebenarnya cenderung lebih mengambil jalan tengah (non-blok) dalam politik internasional. Hal ini tercermin dalam konferensi-konferensi Asia-Afrika yang diinisiasi oleh Indonesia, di mana Indonesia bersama dengan negara-negara non-blok lainnya menekankan kemerdekaan, anti-kolonialisme, dan perdamaian dunia.

Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia memiliki hubungan yang cukup baik dengan negara-negara Barat pada masa itu, meskipun tidak bisa dikatakan bahwa politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin "memihak" negara-negara blok Barat secara eksklusif. Beberapa faktor yang dapat dijadikan pertimbangan adalah:

Hubungan Sejarah: Indonesia memiliki hubungan sejarah dengan beberapa negara Barat, terutama Belanda (sebagai mantan penjajah) dan Amerika Serikat (yang memberikan dukungan awal terhadap kemerdekaan Indonesia).

Hubungan Ekonomi: Hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Barat dapat menjadi faktor penting dalam politik luar negeri. Indonesia saat itu masih memerlukan investasi dan bantuan teknis dari negara-negara maju untuk pembangunan ekonomi dan sosialnya.

Dukungan Teknologi: Meskipun Sukarno terinspirasi oleh kemajuan teknologi dari Jerman dan Inggris, hal ini tidak secara otomatis mengarahkan Indonesia untuk "memihak" kepada negara-negara Barat dalam politik luar negeri. Indonesia pada saat itu juga menjalin kerja sama dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet dan Tiongkok dalam bidang teknologi dan pembangunan.

Jadi, sementara Sukarno dapat terinspirasi oleh kemajuan teknologi dari negara-negara Barat tertentu, hal ini tidak menjadikan politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin secara eksklusif "memihak" negara-negara blok Barat. Lebih tepatnya, Indonesia mengambil sikap non-blok yang aktif dalam upaya menjaga kemerdekaan, perdamaian, dan kerjasama internasional yang merdeka dari pengaruh blok-blok besar yang sedang bertentangan pada masa itu.

 

 


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Apakah benar NIBKD dan MBKS dibentuk guna menghadapi kekuatan Belanda? Jelaskan!

40

5.0

Jawaban terverifikasi