Rara R

13 Mei 2024 13:37

Rara R

13 Mei 2024 13:37

Pertanyaan

DDT sebagai pestisida sudah jarang digunakan karena

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

03

:

50

:

38

Klaim

7

2

Jawaban terverifikasi

Salsabila M

Community

14 Mei 2024 00:32

Jawaban terverifikasi

<p>DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) sebagai pestisida sudah jarang digunakan karena beberapa alasan utama yang berkaitan dengan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia:</p><p><strong>Persistensi Lingkungan:</strong></p><ul><li>DDT adalah senyawa kimia yang sangat stabil dan tidak mudah terurai di lingkungan. Hal ini menyebabkan DDT bertahan dalam tanah, air, dan organisme hidup untuk jangka waktu yang sangat lama, mencemari ekosistem secara luas.</li></ul><p><strong>Bioakumulasi dan Biomagnifikasi:</strong></p><ul><li>DDT dapat terakumulasi dalam jaringan lemak organisme hidup. Ketika organisme yang mengandung DDT dimakan oleh predator, konsentrasi DDT meningkat pada setiap tingkat rantai makanan. Proses ini disebut biomagnifikasi, dan menyebabkan keracunan pada hewan-hewan di puncak rantai makanan, termasuk burung pemangsa dan manusia.</li></ul><p><strong>Dampak pada Satwa Liar:</strong></p><ul><li>DDT telah terbukti memiliki efek merugikan pada satwa liar, terutama burung. DDT menyebabkan penipisan cangkang telur pada burung, mengurangi tingkat kelangsungan hidup embrio burung. Spesies seperti elang botak dan burung peregrine falcon mengalami penurunan populasi yang signifikan akibat penggunaan DDT.</li></ul><p><strong>Dampak Kesehatan pada Manusia:</strong></p><ul><li>Paparan DDT dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan pada manusia, termasuk potensi risiko kanker, gangguan sistem saraf, dan gangguan endokrin. DDT dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air, dan udara yang terkontaminasi.</li></ul><p><strong>Regulasi dan Larangan:</strong></p><ul><li>Banyak negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, telah melarang atau membatasi penggunaan DDT sejak tahun 1970-an setelah bukti-bukti ilmiah mengenai dampak negatifnya menjadi jelas. Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik yang Persisten (POP) tahun 2001 mengatur untuk membatasi produksi dan penggunaan DDT secara global.</li></ul><p><strong>Alternatif yang Lebih Aman:</strong></p><ul><li>Pengembangan pestisida baru yang lebih aman dan ramah lingkungan telah menggantikan DDT dalam banyak aplikasi. Pestisida modern cenderung lebih spesifik targetnya dan lebih cepat terurai di lingkungan, mengurangi risiko pencemaran dan dampak negatif jangka panjang.</li></ul>

DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) sebagai pestisida sudah jarang digunakan karena beberapa alasan utama yang berkaitan dengan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia:

Persistensi Lingkungan:

  • DDT adalah senyawa kimia yang sangat stabil dan tidak mudah terurai di lingkungan. Hal ini menyebabkan DDT bertahan dalam tanah, air, dan organisme hidup untuk jangka waktu yang sangat lama, mencemari ekosistem secara luas.

Bioakumulasi dan Biomagnifikasi:

  • DDT dapat terakumulasi dalam jaringan lemak organisme hidup. Ketika organisme yang mengandung DDT dimakan oleh predator, konsentrasi DDT meningkat pada setiap tingkat rantai makanan. Proses ini disebut biomagnifikasi, dan menyebabkan keracunan pada hewan-hewan di puncak rantai makanan, termasuk burung pemangsa dan manusia.

Dampak pada Satwa Liar:

  • DDT telah terbukti memiliki efek merugikan pada satwa liar, terutama burung. DDT menyebabkan penipisan cangkang telur pada burung, mengurangi tingkat kelangsungan hidup embrio burung. Spesies seperti elang botak dan burung peregrine falcon mengalami penurunan populasi yang signifikan akibat penggunaan DDT.

Dampak Kesehatan pada Manusia:

  • Paparan DDT dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan pada manusia, termasuk potensi risiko kanker, gangguan sistem saraf, dan gangguan endokrin. DDT dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air, dan udara yang terkontaminasi.

Regulasi dan Larangan:

  • Banyak negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, telah melarang atau membatasi penggunaan DDT sejak tahun 1970-an setelah bukti-bukti ilmiah mengenai dampak negatifnya menjadi jelas. Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik yang Persisten (POP) tahun 2001 mengatur untuk membatasi produksi dan penggunaan DDT secara global.

Alternatif yang Lebih Aman:

  • Pengembangan pestisida baru yang lebih aman dan ramah lingkungan telah menggantikan DDT dalam banyak aplikasi. Pestisida modern cenderung lebih spesifik targetnya dan lebih cepat terurai di lingkungan, mengurangi risiko pencemaran dan dampak negatif jangka panjang.

Laode A

14 Mei 2024 23:44

Jawaban terverifikasi

<p>DDT (dikloro diphenyl trikloroetan) dulunya merupakan pestisida yang sangat efektif untuk mengendalikan berbagai hama, termasuk nyamuk yang menularkan penyakit malaria. Namun, penggunaan DDT secara luas membawa dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, sehingga penggunaannya kini dibatasi atau bahkan dilarang di banyak negara. Berikut beberapa alasan utama mengapa DDT sudah jarang digunakan:</p><p><strong>1. Dampak Lingkungan:</strong></p><ul><li><strong>Persistensi:</strong> DDT merupakan senyawa yang sangat persisten, artinya sulit terurai di alam. DDT dapat terakumulasi dalam rantai makanan, mencemari tanah, air, dan udara, dan membahayakan berbagai organisme, termasuk hewan liar dan manusia.</li><li><strong>Keracunan:</strong> DDT dapat menyebabkan keracunan pada hewan dan manusia jika terpapar dalam jumlah besar. Keracunan DDT dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kerusakan sistem saraf, tremor, kejang, dan bahkan kematian.</li><li><strong>Gangguan Ekosistem:</strong> DDT dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan membunuh serangga yang bermanfaat selain hama sasaran. Hal ini dapat mengakibatkan ledakan populasi hama sekunder dan mengganggu rantai makanan.</li></ul><p><strong>2. Dampak Kesehatan Manusia:</strong></p><ul><li><strong>Kanker:</strong> DDT diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen (penyebab kanker) oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Paparan DDT dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker hati, kanker paru-paru, dan kanker lainnya.</li><li><strong>Gangguan Reproduksi:</strong> DDT dapat mengganggu sistem reproduksi pada manusia dan hewan. Paparan DDT dikaitkan dengan infertilitas, keguguran, dan cacat lahir pada bayi.</li><li><strong>Gangguan Neurologis:</strong> DDT dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf pada manusia dan hewan. Paparan DDT dikaitkan dengan tremor, kejang, dan masalah neurologis lainnya.</li></ul><p><strong>3. Alternatif yang Lebih Aman dan Efektif:</strong></p><p>Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, banyak pestisida alternatif yang lebih aman dan efektif telah dikembangkan. Pestisida ini umumnya memiliki tingkat persistensi yang lebih rendah dan tidak menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan yang seburuk DDT.</p><p><strong>4. Peraturan dan Larangan:</strong></p><p>Banyak negara telah menerapkan peraturan dan larangan penggunaan DDT karena kekhawatiran terhadap dampak negatifnya. Pada tahun 1972, Amerika Serikat melarang penggunaan DDT untuk sebagian besar aplikasi dalam negeri. Konvensi Stockholm tentang Senyawa Organik Persisten (POPs) tahun 2001 juga melarang produksi dan penggunaan DDT, kecuali untuk beberapa aplikasi yang sangat dibatasi dan di bawah kontrol ketat.</p><p>Meskipun DDT masih digunakan dalam beberapa kasus khusus, seperti untuk mengendalikan nyamuk yang menularkan malaria di daerah terpencil, penggunaannya secara umum telah dihentikan karena dampak negatifnya yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.</p><p>Penting untuk dicatat bahwa DDT merupakan contoh pestisida yang berbahaya dan tidak berkelanjutan. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan hati-hati dan bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebisa mungkin, penggunaan pestisida harus dihindari dan digantikan dengan metode pengendalian hama yang lebih aman dan berkelanjutan.</p>

DDT (dikloro diphenyl trikloroetan) dulunya merupakan pestisida yang sangat efektif untuk mengendalikan berbagai hama, termasuk nyamuk yang menularkan penyakit malaria. Namun, penggunaan DDT secara luas membawa dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, sehingga penggunaannya kini dibatasi atau bahkan dilarang di banyak negara. Berikut beberapa alasan utama mengapa DDT sudah jarang digunakan:

1. Dampak Lingkungan:

  • Persistensi: DDT merupakan senyawa yang sangat persisten, artinya sulit terurai di alam. DDT dapat terakumulasi dalam rantai makanan, mencemari tanah, air, dan udara, dan membahayakan berbagai organisme, termasuk hewan liar dan manusia.
  • Keracunan: DDT dapat menyebabkan keracunan pada hewan dan manusia jika terpapar dalam jumlah besar. Keracunan DDT dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kerusakan sistem saraf, tremor, kejang, dan bahkan kematian.
  • Gangguan Ekosistem: DDT dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan membunuh serangga yang bermanfaat selain hama sasaran. Hal ini dapat mengakibatkan ledakan populasi hama sekunder dan mengganggu rantai makanan.

2. Dampak Kesehatan Manusia:

  • Kanker: DDT diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen (penyebab kanker) oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Paparan DDT dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker hati, kanker paru-paru, dan kanker lainnya.
  • Gangguan Reproduksi: DDT dapat mengganggu sistem reproduksi pada manusia dan hewan. Paparan DDT dikaitkan dengan infertilitas, keguguran, dan cacat lahir pada bayi.
  • Gangguan Neurologis: DDT dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf pada manusia dan hewan. Paparan DDT dikaitkan dengan tremor, kejang, dan masalah neurologis lainnya.

3. Alternatif yang Lebih Aman dan Efektif:

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, banyak pestisida alternatif yang lebih aman dan efektif telah dikembangkan. Pestisida ini umumnya memiliki tingkat persistensi yang lebih rendah dan tidak menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan yang seburuk DDT.

4. Peraturan dan Larangan:

Banyak negara telah menerapkan peraturan dan larangan penggunaan DDT karena kekhawatiran terhadap dampak negatifnya. Pada tahun 1972, Amerika Serikat melarang penggunaan DDT untuk sebagian besar aplikasi dalam negeri. Konvensi Stockholm tentang Senyawa Organik Persisten (POPs) tahun 2001 juga melarang produksi dan penggunaan DDT, kecuali untuk beberapa aplikasi yang sangat dibatasi dan di bawah kontrol ketat.

Meskipun DDT masih digunakan dalam beberapa kasus khusus, seperti untuk mengendalikan nyamuk yang menularkan malaria di daerah terpencil, penggunaannya secara umum telah dihentikan karena dampak negatifnya yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Penting untuk dicatat bahwa DDT merupakan contoh pestisida yang berbahaya dan tidak berkelanjutan. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan hati-hati dan bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sebisa mungkin, penggunaan pestisida harus dihindari dan digantikan dengan metode pengendalian hama yang lebih aman dan berkelanjutan.


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan moneter .... a. Ekspansif dengan menaikkan reserve requirement ratio b. Ekspansif dengan menurunkan reserve requirement ratio c. Kontraktif dengan menaikkan reserve requirement ratio d. Kontraktif dengan menurunkan reserve requirement ratio e. Ekspansif dengan menaikkan tingkat diskonto Bila Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif, ceteris paribus maka .... a. Menimbulkan inflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas b. Menimbulkan deflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas c. Tingkat bunga meningkat di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas d. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas e. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) vertikal Kebijakan fiskal kontraktif dilakukan dengan cara .... a. Menurunkan pengeluaran pemerintah (G), menambah pembayaran transfer (Tr) dan meningkatkan pemungutan pajak (Tx) b. Menurunkan G, mengurangi Tr, dan meningkatkan Tx c. Menurunkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx d. Meningkatkan G, mengurangi Tr, dan menurunkan Tx e. Meningkatkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx Cara yang dilakukan kebijakan tingkat diskonto oleh Bank Sentral dalam melakukan kebijakan moneter adalah .... a. Mengatur jumlah pemberian kredit b. Menetapkan harga surat-surat berharga di pasar uang c. Menetapkan giro wajib minimum (reserved requirement ratio) d. Mengatur tingkat bunga tabungan e. Mengatur tingkat bunga pinjaman bank sentral kepada bank umum Perhatikan beberapa pernyataan berikut. 1). Menaikkan tarif pajak. 2). Diversifikasi pajak. 3). Menaikkan suku bunga. 4). Politik pasar terbuka. 5). Mengadakan diskriminasi harga. Yang termasuk kebijakan fiskal adalah .... a. 1) dan 2) b. 2) dan 3) c. 3) dan 4) d. 3) dan 5) e. 4) dan 5) Investasi bank lesu, daya beli melemah akan berdampak kepada apresiasi rupiah terhadap mata uang asing memburuk. Kebijakan moneter yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah .... a. Menaikkan suku bunga bank b. Membeli surat berharga c. Memberikan subsidi kepada masyarakat d. Membatasi pengeluaran negara e. Menaikkan pajak penghasilan Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan fiskal ekspansif bila tidak diikuti dengan kebijakan moneter yang ekspansif adalah .... a. Output bertambah, suku bunga tetap b. Output bertambah, suku bunga turun c. Output bertambah, suku bunga naik d. Output turun, suku bunga naik e. Output turun, suku bunga turun Di bawah ini yang tidak termasuk jenis kebijakan moneter berhubungan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar di masyarakat, adalah .... a. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary Expansive Policy) b. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation) c. Kebijakan moneter kontraktif (Monetary Contractive Policy)/ Tight Money Policy d. Fasilitas diskonto (Discount Rate) e. Meningkatkan jumlah barang di pasar output Pada saat nilai rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan dari Rp10.500,00 menjadi Rp11.760,00 harga barang impor mengalami kenaikan. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah .... a. Memborong dolar Amerika di pasar uang untuk membayar utang b. Meningkatkan produksi barang dan jasa bagi masyarakat c. Membeli surat berharga jangka panjang di pasar modal d. Menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan e. Menurunkan suku bunga tabungan dan pinjaman Ketika kebutuhan kedelai meningkat dan petani gagal panen karena terserang hama maka pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri yang harganya lebih mahal. Kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah .... a. Menentukan tarif pajak kedelai lebih rendah dari sebelumnya b. Menentukan standar harga kedelai dari yang rendah sampai mahal c. Memberikan subsidi kepada petani yang menghasilkan kedelai d. Meningkatkan produktivitas kedelai dengan mengganti tanaman padi e. Membatasi impor kedelai dan meningkatkan ekspor ke luar negeri Operasi pasar terbuka dalam pengendalian uang yang beredar dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara .... a. Membeli surat berharga pemerintah dan Menjual surat-surat berharga pemerintah b. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menjual surat-surat berharga pemerintah c. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah d. Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah e. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum Perhatikan pernyataan berikut. 1). Politik diskonto 2). Menaikkan pajak 3). Politik pasar terbuka 4). Menaikkan cash ratio 5). Meningkatkan impor 6). Meningkatkan pinjaman Dari cara yang diterapkan pemerintah tersebut, yang merupakan kebijakan moneter adalah .... a. 1), 2), dan 3) b. 1), 3), dan 4) c. 2), 4), dan 5) d. 3), 4), dan 5) e. 4), 5), dan 6) Kondisi saat pemerintah sebaiknya tidak memberlakukan kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter adalah .... a. Ekonomi mengalami deflasi b. Perekonomian berada dibawah output potensialnya c. Tidak terjadi inflasi dan tingkat pengangguran berada dibawah target tingkat pengangguran d. Tingkat pengangguran berada diatas target tingkat pengangguran e. Ekonomi mengalami inflasi Bank sentral memasok dana ke dalam cadangan perbankan sebesar Rp10 triliun, pada saat yang sama bank sentral menetapkan rasio kebutuhan cadangan sebesar 2%. Dari proses penciptaan uang, jumlah uang yang beredar dapat bertambah sebesar .... a. Rp10,2 triliun b. Rp12 triliun c. Rp50 triliun d. Rp102 triliun e. Rp500 triliun Bank X menerima tambahan deposit Rp500 juta dan menyalurkannya sebagai kredit pada nasabah A setelah dikurangi cadangan wajib perbankan 10%. Bila A menyimpan pinjamannya pada Bank Y dan bank ini menyisihkan cadangan dengan rasio yang sama, dan menyalurkan sebagai kredit, begitu seterusnya. Jumlah uang yang beredar adalah .... a. 50 juta b. 500 juta c. 1.000 juta d. 5.000 juta e. 50.000 juta Apabila GWM atau reserve requirement bank-bank umum sebesar 5%, maka multiplier deposit adalah sebesar .... a. 5 b. 10 c. 15 d. 20 e. 25 Jika GWM dinaikkan dari 5% menjadi 10 %, maka .... a. Multiplier naik menjadi 10 kali b. Multiplier turun menjadi 10 kali c. Multiplier tetap d. Multiplier naik menjadi 50 kali e. Multiplier turun menjadi 5 kali Jika defisit riil senilai Rp100 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 7.5% dan defisit nominal senilai Rp400 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp1 Triliun b. Rp2 Triliun c. Rp3 Triliun d. Rp4 Triliun e. Rp5 Triliun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,- Untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai macam kebijakan moneter. Ketika terjadi inflasi salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan/persediaan kas (cash ratio policy). Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah .... a. Jumlah uang yang beredar akan bertambah sehingga harga barang akan mengalami penurunan b. Harga barang akan mengalami penurunan sebagai akibat jumlah uang yang beredar berkurang c. Penambah cadangan pada bank umum menimbulkan jumlah uang semakin banyak beredar d. Jumlah barang akan semakin banyak beredar sebagai akibat dari kelangkaan jumlah uang e. Penambahan jumlah barang tidak dapat dihindari karena modal perusahaan semakin bertambah Apabila diketahui bahwa Indonesia mengalami defisit anggaran nominal (nominal deficit) sebesar Rp400 Triliun, defisit anggaran riil (real deficit) sebesar Rp360 Triliun, dan total utang Indonesia mencapai Rp2.000 Triliun, maka tingkat inflasi Indonesia mencapai .... a. 0,5% b. 1,0% c. 1,5% d. 2,0% e. 2,5% Jika defisit riil senilai Rp200 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 10% dan defisit nominal senilai Rp800 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp3 Triliun b. Rp4 Triliun c. Rp5 Triliun d. Rp6 Triliun e. Rp8 Triliun Berikut ini adalah berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral, kecuali .... a. Operasi pasar terbuka b. Menetapkan giro wajib minimum c. Menjual saham d. Kebijakan tingkat diskonto e. Pengawasan kredit secara selektif Apabila tingkat inflasi pada 2020 adalah 10 % dan kemudian pada 2021 menjadi 7 %, manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat? a. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga turun b. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga naik c. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga tetap d. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga naik e. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga turun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,-

14

0.0

Jawaban terverifikasi