Suci A

24 Juni 2024 03:00

Suci A

24 Juni 2024 03:00

Pertanyaan

Fungsi permintaan merupakan jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen dalam kurun waktu tertentu. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi jumlah permintaan adalah harga, karena harga merupakan satuan hitung. Sehingga bunyi hukum permintaan “Jika Harga Naik Maka Permintaan Turun, Jika Harga Turun Maka Permintaan Naik dalam keadaan Cateris Paribus”. Jelaskan mengapa bunyi hukum permintaan berbanding terbalik? Menurut anda apakah bunyi permintaan saat ini masih berlaku atau tidak? Berikan contohnya!

Fungsi permintaan merupakan jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen dalam kurun waktu tertentu. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi jumlah permintaan adalah harga, karena harga merupakan satuan hitung. Sehingga bunyi hukum permintaan “Jika Harga Naik Maka Permintaan Turun, Jika Harga Turun Maka Permintaan Naik dalam keadaan Cateris Paribus”. Jelaskan mengapa bunyi hukum permintaan berbanding terbalik? Menurut anda apakah bunyi permintaan saat ini masih berlaku atau tidak? Berikan contohnya!

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

12

:

18

:

38

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

Nanda R

Community

24 Juni 2024 12:06

Jawaban terverifikasi

<p>&nbsp;</p><p>Mengapa Hukum Permintaan Berbanding Terbalik?</p><p>Hukum permintaan menyatakan bahwa, dalam keadaan ceteris paribus (semua faktor lain tetap konstan), jika harga suatu barang atau jasa naik, maka jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen akan turun, dan sebaliknya, jika harga turun, permintaan akan naik. Ada beberapa alasan yang menjelaskan mengapa hukum permintaan berbanding terbalik:</p><p><strong>Efek Substitusi:</strong></p><ul><li>Ketika harga suatu barang naik, konsumen akan mencari barang pengganti (substitusi) yang harganya lebih murah. Misalnya, jika harga daging sapi naik, konsumen mungkin akan beralih ke daging ayam yang lebih murah.</li></ul><p><strong>Efek Pendapatan:</strong></p><ul><li>Kenaikan harga suatu barang mengurangi daya beli konsumen. Dengan harga yang lebih tinggi, konsumen tidak mampu membeli jumlah barang yang sama seperti sebelumnya, sehingga permintaan turun. Misalnya, jika harga bensin naik, konsumen mungkin mengurangi frekuensi penggunaan mobil.</li></ul><p><strong>Utilitas Marginal Menurun:</strong></p><ul><li>Menurut hukum utilitas marginal menurun, kepuasan tambahan yang diperoleh dari konsumsi tambahan satu unit barang akan semakin berkurang. Sehingga, dengan harga yang lebih tinggi, konsumen merasa tidak mendapatkan nilai yang sepadan dari tambahan barang tersebut.</li></ul><p>Apakah Hukum Permintaan Masih Berlaku Saat Ini?</p><p>Secara umum, hukum permintaan masih berlaku saat ini karena didasarkan pada prinsip dasar perilaku konsumen yang tetap relevan. Namun, ada beberapa situasi dan pengecualian yang dapat mempengaruhi bagaimana hukum ini diterapkan dalam kenyataan.</p><p>Contoh Situasi di Mana Hukum Permintaan Berlaku:</p><p><strong>Barang Konsumsi Sehari-hari:</strong></p><ul><li>Barang-barang seperti makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya menunjukkan pola permintaan yang sesuai dengan hukum permintaan. Misalnya, jika harga roti turun, lebih banyak orang akan membeli roti.</li></ul><p><strong>Teknologi dan Elektronik:</strong></p><ul><li>Perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer sering menunjukkan penurunan harga seiring dengan waktu dan peningkatan teknologi, sehingga permintaan meningkat.</li></ul><p>Contoh Situasi di Mana Hukum Permintaan Mungkin Tidak Berlaku:</p><p><strong>Barang Giffen:</strong></p><ul><li>Barang Giffen adalah barang inferior yang mengalami peningkatan permintaan saat harganya naik karena efek pendapatan yang sangat kuat. Misalnya, dalam kasus ekstrem, jika harga roti yang merupakan makanan pokok bagi orang miskin naik, mereka mungkin tidak mampu membeli daging lagi dan malah membeli lebih banyak roti.</li></ul><p><strong>Barang Veblen:</strong></p><ul><li>Barang Veblen adalah barang mewah yang permintaannya meningkat seiring dengan kenaikan harga karena konsumen melihat barang tersebut sebagai simbol status. Contohnya adalah barang-barang mewah seperti perhiasan atau mobil mewah, di mana harga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tariknya.</li></ul><p>Contoh Nyata:</p><p><strong>Permintaan Masker Selama Pandemi COVID-19:</strong> Pada awal pandemi COVID-19, permintaan masker meningkat tajam meskipun harganya naik. Dalam situasi darurat, faktor lain seperti kebutuhan mendesak dan kelangkaan memainkan peran besar sehingga hukum permintaan konvensional mungkin tidak sepenuhnya berlaku.</p><p><strong>Permintaan Teknologi Terbaru:</strong> Peluncuran smartphone terbaru sering kali disertai dengan harga tinggi, namun permintaan tetap tinggi karena konsumen mengejar fitur baru dan status sosial.</p>

 

Mengapa Hukum Permintaan Berbanding Terbalik?

Hukum permintaan menyatakan bahwa, dalam keadaan ceteris paribus (semua faktor lain tetap konstan), jika harga suatu barang atau jasa naik, maka jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen akan turun, dan sebaliknya, jika harga turun, permintaan akan naik. Ada beberapa alasan yang menjelaskan mengapa hukum permintaan berbanding terbalik:

Efek Substitusi:

  • Ketika harga suatu barang naik, konsumen akan mencari barang pengganti (substitusi) yang harganya lebih murah. Misalnya, jika harga daging sapi naik, konsumen mungkin akan beralih ke daging ayam yang lebih murah.

Efek Pendapatan:

  • Kenaikan harga suatu barang mengurangi daya beli konsumen. Dengan harga yang lebih tinggi, konsumen tidak mampu membeli jumlah barang yang sama seperti sebelumnya, sehingga permintaan turun. Misalnya, jika harga bensin naik, konsumen mungkin mengurangi frekuensi penggunaan mobil.

Utilitas Marginal Menurun:

  • Menurut hukum utilitas marginal menurun, kepuasan tambahan yang diperoleh dari konsumsi tambahan satu unit barang akan semakin berkurang. Sehingga, dengan harga yang lebih tinggi, konsumen merasa tidak mendapatkan nilai yang sepadan dari tambahan barang tersebut.

Apakah Hukum Permintaan Masih Berlaku Saat Ini?

Secara umum, hukum permintaan masih berlaku saat ini karena didasarkan pada prinsip dasar perilaku konsumen yang tetap relevan. Namun, ada beberapa situasi dan pengecualian yang dapat mempengaruhi bagaimana hukum ini diterapkan dalam kenyataan.

Contoh Situasi di Mana Hukum Permintaan Berlaku:

Barang Konsumsi Sehari-hari:

  • Barang-barang seperti makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya menunjukkan pola permintaan yang sesuai dengan hukum permintaan. Misalnya, jika harga roti turun, lebih banyak orang akan membeli roti.

Teknologi dan Elektronik:

  • Perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer sering menunjukkan penurunan harga seiring dengan waktu dan peningkatan teknologi, sehingga permintaan meningkat.

Contoh Situasi di Mana Hukum Permintaan Mungkin Tidak Berlaku:

Barang Giffen:

  • Barang Giffen adalah barang inferior yang mengalami peningkatan permintaan saat harganya naik karena efek pendapatan yang sangat kuat. Misalnya, dalam kasus ekstrem, jika harga roti yang merupakan makanan pokok bagi orang miskin naik, mereka mungkin tidak mampu membeli daging lagi dan malah membeli lebih banyak roti.

Barang Veblen:

  • Barang Veblen adalah barang mewah yang permintaannya meningkat seiring dengan kenaikan harga karena konsumen melihat barang tersebut sebagai simbol status. Contohnya adalah barang-barang mewah seperti perhiasan atau mobil mewah, di mana harga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tariknya.

Contoh Nyata:

Permintaan Masker Selama Pandemi COVID-19: Pada awal pandemi COVID-19, permintaan masker meningkat tajam meskipun harganya naik. Dalam situasi darurat, faktor lain seperti kebutuhan mendesak dan kelangkaan memainkan peran besar sehingga hukum permintaan konvensional mungkin tidak sepenuhnya berlaku.

Permintaan Teknologi Terbaru: Peluncuran smartphone terbaru sering kali disertai dengan harga tinggi, namun permintaan tetap tinggi karena konsumen mengejar fitur baru dan status sosial.


Yatman Y

24 Juni 2024 12:50

Jawaban terverifikasi

<p>Bunyi hukum permintaan yang menyatakan "Jika harga naik maka permintaan turun, jika harga turun maka permintaan naik dalam keadaan Cateris Paribus" didasarkan pada prinsip-prinsip perilaku konsumen dalam ekonomi mikro. Terdapat beberapa alasan mengapa hubungan ini berbanding terbalik:</p><p>1. **Efek Substitusi:** Ketika harga suatu barang naik, konsumen cenderung beralih ke barang lain yang lebih murah atau lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan yang sama atau mirip. Sebaliknya, jika harga turun, barang tersebut menjadi lebih menarik dibandingkan barang lain, sehingga permintaan terhadap barang tersebut meningkat.</p><p>2. **Efek Pendapatan:** Ketika harga barang turun, konsumen merasa memiliki daya beli yang lebih tinggi, karena mereka dapat membeli lebih banyak barang dengan pendapatan yang sama. Hal ini cenderung meningkatkan permintaan. Sebaliknya, ketika harga naik, daya beli konsumen relatif menurun, sehingga permintaan akan berkurang.</p><p>3. **Hukum Kepuasan Marginal:** Konsep ini menyatakan bahwa semakin banyak unit dari suatu barang yang dikonsumsi, kepuasan tambahan yang diperoleh oleh konsumen cenderung menurun. Oleh karena itu, ketika harga turun, konsumen cenderung untuk membeli lebih banyak unit barang untuk memaksimalkan kepuasan mereka.</p><p>Apakah bunyi hukum permintaan masih berlaku saat ini? Ya, hukum permintaan masih relevan dalam ekonomi saat ini karena perilaku konsumen umumnya masih dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Mari kita berikan contoh untuk mengilustrasikan hal ini:</p><p>**Contoh: Permintaan Mobil**</p><p>Misalkan Anda mengamati pasar mobil. Jika harga mobil naik, misalnya akibat kenaikan pajak atau peningkatan biaya produksi, maka:</p><p>- Konsumen yang awalnya berencana untuk membeli mobil mungkin memilih untuk menunda pembelian atau mencari alternatif lain seperti menggunakan transportasi umum.<br>- Konsumen yang sebelumnya mempertimbangkan untuk membeli mobil mungkin beralih ke membeli mobil bekas atau model yang lebih ekonomis.</p><p>Sebaliknya, jika harga mobil turun, misalnya karena adanya promosi penjualan atau penurunan biaya produksi:</p><p>- Konsumen yang sebelumnya menunda pembelian mungkin memutuskan untuk membeli mobil sekarang karena harga lebih terjangkau.<br>- Konsumen yang awalnya memilih model mobil lain mungkin beralih ke model yang turun harga untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.</p><p>Dengan demikian, dalam kasus mobil atau barang lainnya, hubungan antara harga dan permintaan tetap berlaku seperti yang dijelaskan dalam hukum permintaan. Namun, perlu dicatat bahwa dalam kehidupan nyata, faktor-faktor lain seperti preferensi konsumen, tren mode, pendapatan konsumen, dan faktor-faktor eksternal juga dapat mempengaruhi permintaan suatu barang atau jasa. Moga membantu kamu ya Suci</p>

Bunyi hukum permintaan yang menyatakan "Jika harga naik maka permintaan turun, jika harga turun maka permintaan naik dalam keadaan Cateris Paribus" didasarkan pada prinsip-prinsip perilaku konsumen dalam ekonomi mikro. Terdapat beberapa alasan mengapa hubungan ini berbanding terbalik:

1. **Efek Substitusi:** Ketika harga suatu barang naik, konsumen cenderung beralih ke barang lain yang lebih murah atau lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan yang sama atau mirip. Sebaliknya, jika harga turun, barang tersebut menjadi lebih menarik dibandingkan barang lain, sehingga permintaan terhadap barang tersebut meningkat.

2. **Efek Pendapatan:** Ketika harga barang turun, konsumen merasa memiliki daya beli yang lebih tinggi, karena mereka dapat membeli lebih banyak barang dengan pendapatan yang sama. Hal ini cenderung meningkatkan permintaan. Sebaliknya, ketika harga naik, daya beli konsumen relatif menurun, sehingga permintaan akan berkurang.

3. **Hukum Kepuasan Marginal:** Konsep ini menyatakan bahwa semakin banyak unit dari suatu barang yang dikonsumsi, kepuasan tambahan yang diperoleh oleh konsumen cenderung menurun. Oleh karena itu, ketika harga turun, konsumen cenderung untuk membeli lebih banyak unit barang untuk memaksimalkan kepuasan mereka.

Apakah bunyi hukum permintaan masih berlaku saat ini? Ya, hukum permintaan masih relevan dalam ekonomi saat ini karena perilaku konsumen umumnya masih dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Mari kita berikan contoh untuk mengilustrasikan hal ini:

**Contoh: Permintaan Mobil**

Misalkan Anda mengamati pasar mobil. Jika harga mobil naik, misalnya akibat kenaikan pajak atau peningkatan biaya produksi, maka:

- Konsumen yang awalnya berencana untuk membeli mobil mungkin memilih untuk menunda pembelian atau mencari alternatif lain seperti menggunakan transportasi umum.
- Konsumen yang sebelumnya mempertimbangkan untuk membeli mobil mungkin beralih ke membeli mobil bekas atau model yang lebih ekonomis.

Sebaliknya, jika harga mobil turun, misalnya karena adanya promosi penjualan atau penurunan biaya produksi:

- Konsumen yang sebelumnya menunda pembelian mungkin memutuskan untuk membeli mobil sekarang karena harga lebih terjangkau.
- Konsumen yang awalnya memilih model mobil lain mungkin beralih ke model yang turun harga untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.

Dengan demikian, dalam kasus mobil atau barang lainnya, hubungan antara harga dan permintaan tetap berlaku seperti yang dijelaskan dalam hukum permintaan. Namun, perlu dicatat bahwa dalam kehidupan nyata, faktor-faktor lain seperti preferensi konsumen, tren mode, pendapatan konsumen, dan faktor-faktor eksternal juga dapat mempengaruhi permintaan suatu barang atau jasa. Moga membantu kamu ya Suci


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Permintaan masker dalam negeri meningkat seiring bertambahnya jumlah orang Indonesia yang positif virus covid-19 tetapi kemampuan produksi belum mencukupi. Jika pemerintah memberlakukan lockdown, artinya negara tertutup dan tidak bisa melakukan impor maka harga akan semakin meningkat …. A. Meningkatkan pendapatan B. Menjaga kestabilan harga dalam negeri C. Memperluas lapangan kerja D. Mempercepat pembangunan ekonomi E. Meningkatkan Kerjasama ekonomi dalam bidang impor

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan moneter .... a. Ekspansif dengan menaikkan reserve requirement ratio b. Ekspansif dengan menurunkan reserve requirement ratio c. Kontraktif dengan menaikkan reserve requirement ratio d. Kontraktif dengan menurunkan reserve requirement ratio e. Ekspansif dengan menaikkan tingkat diskonto Bila Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif, ceteris paribus maka .... a. Menimbulkan inflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas b. Menimbulkan deflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas c. Tingkat bunga meningkat di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas d. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas e. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) vertikal Kebijakan fiskal kontraktif dilakukan dengan cara .... a. Menurunkan pengeluaran pemerintah (G), menambah pembayaran transfer (Tr) dan meningkatkan pemungutan pajak (Tx) b. Menurunkan G, mengurangi Tr, dan meningkatkan Tx c. Menurunkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx d. Meningkatkan G, mengurangi Tr, dan menurunkan Tx e. Meningkatkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx Cara yang dilakukan kebijakan tingkat diskonto oleh Bank Sentral dalam melakukan kebijakan moneter adalah .... a. Mengatur jumlah pemberian kredit b. Menetapkan harga surat-surat berharga di pasar uang c. Menetapkan giro wajib minimum (reserved requirement ratio) d. Mengatur tingkat bunga tabungan e. Mengatur tingkat bunga pinjaman bank sentral kepada bank umum Perhatikan beberapa pernyataan berikut. 1). Menaikkan tarif pajak. 2). Diversifikasi pajak. 3). Menaikkan suku bunga. 4). Politik pasar terbuka. 5). Mengadakan diskriminasi harga. Yang termasuk kebijakan fiskal adalah .... a. 1) dan 2) b. 2) dan 3) c. 3) dan 4) d. 3) dan 5) e. 4) dan 5) Investasi bank lesu, daya beli melemah akan berdampak kepada apresiasi rupiah terhadap mata uang asing memburuk. Kebijakan moneter yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah .... a. Menaikkan suku bunga bank b. Membeli surat berharga c. Memberikan subsidi kepada masyarakat d. Membatasi pengeluaran negara e. Menaikkan pajak penghasilan Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan fiskal ekspansif bila tidak diikuti dengan kebijakan moneter yang ekspansif adalah .... a. Output bertambah, suku bunga tetap b. Output bertambah, suku bunga turun c. Output bertambah, suku bunga naik d. Output turun, suku bunga naik e. Output turun, suku bunga turun Di bawah ini yang tidak termasuk jenis kebijakan moneter berhubungan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar di masyarakat, adalah .... a. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary Expansive Policy) b. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation) c. Kebijakan moneter kontraktif (Monetary Contractive Policy)/ Tight Money Policy d. Fasilitas diskonto (Discount Rate) e. Meningkatkan jumlah barang di pasar output Pada saat nilai rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan dari Rp10.500,00 menjadi Rp11.760,00 harga barang impor mengalami kenaikan. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah .... a. Memborong dolar Amerika di pasar uang untuk membayar utang b. Meningkatkan produksi barang dan jasa bagi masyarakat c. Membeli surat berharga jangka panjang di pasar modal d. Menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan e. Menurunkan suku bunga tabungan dan pinjaman Ketika kebutuhan kedelai meningkat dan petani gagal panen karena terserang hama maka pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri yang harganya lebih mahal. Kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah .... a. Menentukan tarif pajak kedelai lebih rendah dari sebelumnya b. Menentukan standar harga kedelai dari yang rendah sampai mahal c. Memberikan subsidi kepada petani yang menghasilkan kedelai d. Meningkatkan produktivitas kedelai dengan mengganti tanaman padi e. Membatasi impor kedelai dan meningkatkan ekspor ke luar negeri Operasi pasar terbuka dalam pengendalian uang yang beredar dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara .... a. Membeli surat berharga pemerintah dan Menjual surat-surat berharga pemerintah b. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menjual surat-surat berharga pemerintah c. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah d. Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah e. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum Perhatikan pernyataan berikut. 1). Politik diskonto 2). Menaikkan pajak 3). Politik pasar terbuka 4). Menaikkan cash ratio 5). Meningkatkan impor 6). Meningkatkan pinjaman Dari cara yang diterapkan pemerintah tersebut, yang merupakan kebijakan moneter adalah .... a. 1), 2), dan 3) b. 1), 3), dan 4) c. 2), 4), dan 5) d. 3), 4), dan 5) e. 4), 5), dan 6) Kondisi saat pemerintah sebaiknya tidak memberlakukan kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter adalah .... a. Ekonomi mengalami deflasi b. Perekonomian berada dibawah output potensialnya c. Tidak terjadi inflasi dan tingkat pengangguran berada dibawah target tingkat pengangguran d. Tingkat pengangguran berada diatas target tingkat pengangguran e. Ekonomi mengalami inflasi Bank sentral memasok dana ke dalam cadangan perbankan sebesar Rp10 triliun, pada saat yang sama bank sentral menetapkan rasio kebutuhan cadangan sebesar 2%. Dari proses penciptaan uang, jumlah uang yang beredar dapat bertambah sebesar .... a. Rp10,2 triliun b. Rp12 triliun c. Rp50 triliun d. Rp102 triliun e. Rp500 triliun Bank X menerima tambahan deposit Rp500 juta dan menyalurkannya sebagai kredit pada nasabah A setelah dikurangi cadangan wajib perbankan 10%. Bila A menyimpan pinjamannya pada Bank Y dan bank ini menyisihkan cadangan dengan rasio yang sama, dan menyalurkan sebagai kredit, begitu seterusnya. Jumlah uang yang beredar adalah .... a. 50 juta b. 500 juta c. 1.000 juta d. 5.000 juta e. 50.000 juta Apabila GWM atau reserve requirement bank-bank umum sebesar 5%, maka multiplier deposit adalah sebesar .... a. 5 b. 10 c. 15 d. 20 e. 25 Jika GWM dinaikkan dari 5% menjadi 10 %, maka .... a. Multiplier naik menjadi 10 kali b. Multiplier turun menjadi 10 kali c. Multiplier tetap d. Multiplier naik menjadi 50 kali e. Multiplier turun menjadi 5 kali Jika defisit riil senilai Rp100 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 7.5% dan defisit nominal senilai Rp400 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp1 Triliun b. Rp2 Triliun c. Rp3 Triliun d. Rp4 Triliun e. Rp5 Triliun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,- Untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai macam kebijakan moneter. Ketika terjadi inflasi salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan/persediaan kas (cash ratio policy). Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah .... a. Jumlah uang yang beredar akan bertambah sehingga harga barang akan mengalami penurunan b. Harga barang akan mengalami penurunan sebagai akibat jumlah uang yang beredar berkurang c. Penambah cadangan pada bank umum menimbulkan jumlah uang semakin banyak beredar d. Jumlah barang akan semakin banyak beredar sebagai akibat dari kelangkaan jumlah uang e. Penambahan jumlah barang tidak dapat dihindari karena modal perusahaan semakin bertambah Apabila diketahui bahwa Indonesia mengalami defisit anggaran nominal (nominal deficit) sebesar Rp400 Triliun, defisit anggaran riil (real deficit) sebesar Rp360 Triliun, dan total utang Indonesia mencapai Rp2.000 Triliun, maka tingkat inflasi Indonesia mencapai .... a. 0,5% b. 1,0% c. 1,5% d. 2,0% e. 2,5% Jika defisit riil senilai Rp200 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 10% dan defisit nominal senilai Rp800 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp3 Triliun b. Rp4 Triliun c. Rp5 Triliun d. Rp6 Triliun e. Rp8 Triliun Berikut ini adalah berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral, kecuali .... a. Operasi pasar terbuka b. Menetapkan giro wajib minimum c. Menjual saham d. Kebijakan tingkat diskonto e. Pengawasan kredit secara selektif Apabila tingkat inflasi pada 2020 adalah 10 % dan kemudian pada 2021 menjadi 7 %, manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat? a. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga turun b. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga naik c. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga tetap d. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga naik e. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga turun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,-

13

0.0

Jawaban terverifikasi

Soal Pilihan Ganda tentang Ekonomi. Perhatikan kutipan korupsi berikut! Data Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan kerugian negara akibat kasus korupsi mencapai Rp238,14 triliun selama 10 tahun terakhir (2013-2022. ICW mencatat data ini berdasarkan putusan korupsi yang dikeluarkan oleh pengadilan tingkat pertama hingga kasasi. Data detailnya seperti berikut ini : Tahun 2013 : Rp3,46 triliun Tahun 2014 : Rp10,69 triliun Tahun 2015 : Rp1,74 triliun Tahun 2016 : Rp3,08 triliun Tahun 2017 : Rp29,42 triliun Tahun 2018 : Rp9,29 triliun Tahun 2019 : Rp12 triliun Tahun 2020 : Rp56,74 triliun Tahun 2021 : Rp62,93 triliun Tahun 2022 : Rp48,79 triliun Dalam buku edukasi antikorupsi Pantang Korupsi Sampai Mati (KPK: 2015) dijelaskan tentang konsep kerugian keuangan negara yang berkaitan dengan korupsi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, konsep kerugian keuangan negara mengandung delik formil. Unsur “dapat merugikan keuangan negara” artinya tindakan akan dianggap merugikan keuangan negara ketika suatu tindakan tersebut berpotensi menyebabkan kerugian negara secara langsung maupun tidak langsung. Jadi, apakah secara nyata kerugian negara memang terjadi atau tidak, bukanlah hal yang penting. ↓ Bayangkan saja betapa mirisnya negara Indonesia jika korupsi ini diteruskan. Maka Korupsi mengakibatkan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara, menurunnya investasi, meningkatnya kemiskinan serta meningkatnya ketimpangan pendapatan. Korupsi juga dapat menurunkan tingkat kebahagiaan masyarakat di suatu negara. Alhasil skor anti korupsi jadi menurun, dari 40 poin menjadi 34 poin. Berdasarkan kutipan diatas, yang dirasakan oleh penduduk dan cara mengatasi situasi tersebut adalah .... A. Pata penduduk merasa sedih dan pasrah terhadap situasi negara Indonesia. Solusi yang bisa dilakukan adalah melakukan kebijakan peraturan tentang anti korupsi, bahwa siapapun yang melakukan korupsi akan dihukum sesuai UUD. B. Penduduk merasa kecewa, marah, dan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Solusi yang bisa dilakukan adalah penguatan sistem pengawasan, penegakan hukum yang tegas, transparansi dalam pengelolaan keuangan negara, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penting menolak dan melaporkan tindakan korupsi. C. Prihatin dengan KPK yang justru diramaikan dengan kasus dugaan pelanggaran etik. Padahal kondisi lembaga sedang terpuruk setelah Ketua KPK sebelumnya, Firli Bahuri menjadi tersangka korupsi. Akibatnya para rakyatnya jadi tidak percaya lagi sama KPK. Solusinya ada menegakkan keadilan negeri. D. Korupsi berdampak begitu besar bagi negara &amp; masyarakat. Salah satunya, kerugian finansial dan ekonomi. Dengan kerugian seperti itu sangat mempengaruhi kualitas pelayanan publik. Cara mengatasinya adalah membuat sebuah peraturan UUD tentang korupsi, dimana pemeriksaan penjabat dilakukan secara menyeluruh bagi seluruh penjabat negeri. E. Para warga merasa kecewa &amp; marah terhadap pemerintah negara. Karena semua pajak yang mereka bayar jadi sia-sia. Jadi, dia mengatakan celah tersebut akan hilang jika wajib pajak taat aturan dan tak berupaya mengurangi pajak yang harusnya dibayarkan. Dia berharap celah tersebut bisa ditutup untuk mencegah korupsi. Tingkat kesulitan : Nearly impossible (HOTS/Menciptakan) : 🤯 Jawab dengam benar. Jika jawaban salah, maka bintang tidak akan dinilai.

10

5.0

Jawaban terverifikasi