NADHIFA A

27 Juli 2026 03:50

NADHIFA A

27 Juli 2026 03:50

Pertanyaan

Literasi 1: Penemuan Mikroskop dan Misteri Kamar Kecil Pada abad ke-17, seorang ilmuwan asal Inggris bernama Robert Hooke merancang sebuah mikroskop cahaya sederhana. Ia menggunakannya untuk mengamati sayatan tipis dari kulit kayu pohon ek (gabus). Di bawah mikroskop, Hooke melihat kotak-kotak kecil kosong yang berjejer rapi. Kotak-kotak tersebut mengingatkannya pada kamar-kamar kecil di biara yang disebut cella. Sejak saat itu, istilah "sel" digunakan dalam biologi. Berabad-abad kemudian, ilmuwan lain menyadari bahwa kotak kosong yang dilihat Hooke sebenarnya adalah dinding sel mati, sementara sel yang hidup sejatinya berisi cairan dan organel yang sibuk menjalankan aktivitas kehidupan. Soal 1 Berdasarkan teks di atas, mengapa Robert Hooke awalnya hanya melihat "kotak- kotak kecil kosong" dan bukan komponen dasar penyusun sel yang hidup? Analisis perbedaan apa yang akan terlihat jika Hooke mengamati sel daun yang masih segar! tanpa mengaitkannya dengan konsep sel mati atau sel hidup. Jelaskan !

Literasi 1: Penemuan Mikroskop dan Misteri Kamar Kecil 
Pada abad ke-17, seorang ilmuwan asal Inggris bernama Robert Hooke merancang 
sebuah mikroskop cahaya sederhana. Ia menggunakannya untuk mengamati 
sayatan tipis dari kulit kayu pohon ek (gabus). Di bawah mikroskop, Hooke melihat 
kotak-kotak kecil kosong yang berjejer rapi. Kotak-kotak tersebut mengingatkannya 
pada kamar-kamar kecil di biara yang disebut cella. Sejak saat itu, istilah "sel" 
digunakan dalam biologi. Berabad-abad kemudian, ilmuwan lain menyadari bahwa 
kotak kosong yang dilihat Hooke sebenarnya adalah dinding sel mati, sementara sel 
yang hidup sejatinya berisi cairan dan organel yang sibuk menjalankan aktivitas 
kehidupan.  
Soal 1 
Berdasarkan teks di atas, mengapa Robert Hooke awalnya hanya melihat "kotak-
kotak kecil kosong" dan bukan komponen dasar penyusun sel yang hidup? Analisis 
perbedaan apa yang akan terlihat jika Hooke mengamati sel daun yang masih segar! 
tanpa mengaitkannya dengan konsep sel mati atau sel hidup. Jelaskan ! 

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

07

:

14

:

33

Klaim

15

1


Zahira S

Dijawab 4 hari yang lalu

<p>Berdasarkan teks di atas, Robert Hooke hanya melihat kotak-kotak kecil kosong karena objek yang ia amati adalah sayatan tipis kulit kayu pohon ek (gabus).</p><p>1.Kotak-kotak kosong tersebut sebenarnya merupakan dinding sel mati.</p><p>2.Karena selnya sudah mati, cairan (sitoplasma) dan organel-organel di dalam sel tersebut sudah hilang/tidak ada, sehingga yang tersisa hanya bagian dinding selnya saja.</p><p>Jika Hooke mengamati sel daun yang masih segar, perbedaan fisik yang akan terlihat secara langsung di bawah mikroskop adalah:</p><p>Isi di Dalam Sel:<br>1.Pada gabus, bagian dalam kotak tampak kosong/berongga.</p><p>2.Pada sel daun segar, bagian dalamnya terisi oleh cairan dan tampak padat/penuh.</p><p>Keberadaan Komponen/Pintik Organel:<br>1.Pada gabus hanya terlihat garis batas/dinding kotaknya saja.</p><p>2.Pada sel daun segar akan terlihat butiran-butiran organel di dalam sel (seperti kloroplas yang berwarna hijau).</p>

Berdasarkan teks di atas, Robert Hooke hanya melihat kotak-kotak kecil kosong karena objek yang ia amati adalah sayatan tipis kulit kayu pohon ek (gabus).

1.Kotak-kotak kosong tersebut sebenarnya merupakan dinding sel mati.

2.Karena selnya sudah mati, cairan (sitoplasma) dan organel-organel di dalam sel tersebut sudah hilang/tidak ada, sehingga yang tersisa hanya bagian dinding selnya saja.

Jika Hooke mengamati sel daun yang masih segar, perbedaan fisik yang akan terlihat secara langsung di bawah mikroskop adalah:

Isi di Dalam Sel:
1.Pada gabus, bagian dalam kotak tampak kosong/berongga.

2.Pada sel daun segar, bagian dalamnya terisi oleh cairan dan tampak padat/penuh.

Keberadaan Komponen/Pintik Organel:
1.Pada gabus hanya terlihat garis batas/dinding kotaknya saja.

2.Pada sel daun segar akan terlihat butiran-butiran organel di dalam sel (seperti kloroplas yang berwarna hijau).


Mau jawaban yang terverifikasi?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Rogu sedang melakukan perkembangbiakan tanaman dengan metode kultur jaringan. Metode ini memanfaatkan sifat totipotensi tumbuhan. Prinsip dari metode ini adalah menumbuhkan jaringan dari sel-sel hidup pada medium khusus secara in vitro. Jaringan yang dapat dipakai pada teknik ini misalnya jaringan muda pada pucuk tanaman. Jika Rogu diminta mengamati jaringan tersebut, hasil yang akan diperoleh oleh Rogu adalah .... A. selnya tersusun rapat serta memiliki inti sel dan vakuola yang berukuran besar B. selnya tidak tersusun rapat serta memiliki inti sel yang besar dan sitoplasma yang banyak C. tersusun atas sel yang mati dan tidak terdapat sitoplasma pada sel D. disusun atas sel hidup yang rapat dan vakuola yang berukuran kecil dan sitoplasmanya banyak

1

0.0

Jawaban terverifikasi

Dilema Nara Karya: Alya Khalisah - Nana terbangun karena sinar matahari menembus jendela kamarnya yang entah sejak kapan terbuka. Sejenak, ia hanya menatap langit-langit kamar. Matanya masih terasa sembab, sisa tangisan tadi malam. Kemudian, Nana bangun dan duduk di sisi ranjang kecilnya. Gadis itu memandang sekeliling kamar, dan tiba-tiba, suara pecahan kaca terdengar dari luar. Nana menutup kedua telinganya kuat-kuat, enggan mendengar apa pun. Setetes bening air matanya bergulir di pipi. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan yang menggiringnya menuju kegilaan. Nana berjalan perlahan ke luar rumah, di antara jalanan sepi sambil menundukkan kepala seolah malu dunia melihatnya. Ia menatap siluet hitamnya di antara bayang-bayang pepohonan dan rumah. Nana berhenti melangkah saat seseorang menghalangi bayangannya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.” Orang itu mulai berbicara kepadanya. Nana mendongak. Wajahnya terasa familiar. “Kenapa?” Gadis itu bertanya dengan wajah datar, tapi Nara hanya diam. “KENAPA KAMU HARUS LAHIR DI DUNIA INI?!” Ia mulai membentak. Gadis itu melayangkan telapak tangannya ke pipi Nara. “PERGI!” Nana tak sanggup menatap lawan bicaranya. Ia hanya memegang pipinya yang terasa nyeri karena tamparan barusan. Hilanglah dari dunia ini, dasar penghancur keluarga orang! hardik gadis itu. Nana terisak diiringi suara teriakan gadis itu di telinganya. Tetesan bening meleleh, merayapi sudut wajahnya. Nana adalah anak perempuan biasa yang hidup dengan kasih sayang utuh dari orang tua. Ia hidup berkecukupan, bahkan lebih. Semula, ia mengira hidup dalam zona kesempurnaan. Tetapi ternyata, semua itu hanya bualan. Ayahnya, ternyata, seorang pria yang telah berkeluarga. Saat itulah ia menyadari, ibunya adalah istri kedua ayahnya. Keluarganya tidak diinginkan oleh semua orang. Ibunya dianggap wanita yang tak punya harga diri. Tidak ada yang sudi berbagi nafas dan tempat dengan keluarga Nana. Mereka tidak pernah mau tahu separah apakah kerusakan jiwa yang mendera orang yang mereka cemooh. Istri pertama ayah Nana adalah sahabat dekat ibu Nana. Sahabat dekat yang saling mengaitkan janji satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah untuk tidak mengkhianati. Begitu istri pertama ayahnya mengetahui apa yang telah terjadi, ia tentu syok berat. Suami yang ia cintai, berpaling darinya. Sahabat yang paling ia percaya, mengkhianatinya dalam waktu yang sama. Nira, anak istri pertama ayahnya, pun tak percaya. Ia nyaris pingsan saat ayahnya mengungkapkan hal itu sendiri. Selanjutnya, teror mulai berdatangan sebagai tanda balas dendam. Mulai dari pecahnya kaca jendela di rumah, hingga lemparan api untuk rumahnya. “Na?” Lamunan Nana terhenti. Gadis itu tetap diam, memandang kosong. “Nana? Sayang, kamu ada di dalam, kan?” Panggilan itu tak membuat Nana beranjak dari posisi yang nyaman bagi dirinya. Kemudian ketukan demi ketukan tak bernada mulai terdengar dari balik pintu. “Nana, buka pintunya, Sayang. Ibu mau bicara mengenai kepindahan kita,” Memang, keluarganya berencana untuk pindah. Pindah ke wilayah yang cukup jauh untuk mengubur kelamnya masa lalu dan melanjutkan hidup. Tapi baginya, pindah rumah hanyalah bentuk pelarian diri. Raganya takkan teraniaya lagi. Namun, jiwa dan pikirannya telah menyatu dengan frustasi berkepanjangan yang diderita Nana selama ini. Ia tetap tidak akan hidup dalam damai seperti sebelumnya. Nana bergeming. Dalam pikirannya yang kalut, ia mengingat Nira. Gadis itu ingi ia lenyap dari dunia ini. Ia ingin Nana musnah. Nara tahu apa artinya itu. * Nana memandangi tubuh kakunya yang ditumpahi tangisan dan penyesalan yang terlontar dari ayah dan ibunya. Ia tertegun dan mengingat kejadian yang terasa begitu cepat. Awalnya, ia berniat memutuskan urat nadi tangan kirinya dengan gunting hijau kesukaannya. Awalnya, ia tidak mau melihat orangtuanya menangis hebat sambil memeluknya. Awalnya, ia ingin merasakan rasa sakit yang mendera jiwanya lebih lama lagi. Namun, saat ia menutup mata dan menguatkan diri atas segala risiko perbuatannya nanti, seberkas cahaya putih menyinari dirinya. Sesaat, ia pikir cahaya itu hanya datang dari luapan fantasinya ketika ia sudah berhasil mati. Kemudian Nana tahu, kematiannya akan membawa segala keadaan berubah menjadi baik. Inilah yang diinginkan semua orang. Nana tersenyum. Sedikit pun, ia tak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan gema bebas dan damai berdengung dalam pikirannya. Sekarang, ia tak perlu lagi menerima berbagai bentuk kekerasan mental dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah bebas dan hidup dalam kedamaian yang dirindukan. Nana menutup matanya, merasakan seluruh sensasi dan kenikmatan damai yang mengalir di sekujur tubuhnya. Berkas-berkas cahaya itu kembali datang dan menyinari tubuhnya, menuntun gadis kecil itu menuju dimensi lain. Dimensi yang akan membawanya menuju keabadian. JELASKAN APA AMANAT PADA TEKS DIATAS!

5

0.0

Jawaban terverifikasi