Al F

19 Januari 2023 13:47

Al F

19 Januari 2023 13:47

Pertanyaan

Ringkasan APBN pada tahun 2021-2022 lalu analisis dan apa penyebab terjadinya naik dan turun?

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

12

:

05

:

20

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

A. Selvi

Mahasiswa/Alumni Politeknik Negeri Ujung Pandang

20 Januari 2023 04:42

Jawaban terverifikasi

<p>Berikut penjelasan terkait ringkasan APBN tahun 2021 dan 2022.</p><p>&nbsp;</p><p>APBN tahun 2021 disusun dalam keadaan defisit sebesar Rp1.006.379.471.104.000,00 atau sekitar Rp1.006 triliun. Defisit terjadi dikarenakan belanja negara lebih besar dibanding pendapatan negara. Penerimaan pendapatan negara disusun sebesar Rp1.743.648.547.327.000,00 atau sekitar Rp1.743 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp2.750.028.018.431.000,00 atau sekitar Rp2.750 triliun. Dari jumlah belanja tersebut, dana akan dialokasikan untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.954,5 triliun serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp795,5 triliun. Adapun fokus kebijakan dalam APBN 2021 ialah penanganan kesehatan, perlindungan sosial, pemulihan ekonomi, dan reformasi struktural.</p><p>&nbsp;</p><p>Sedangkan APBN tahun 2022 disusun dalam keadaan defisit sebesar Rp868.019.050.028.000,00 atau sekitar Rp868 triliun. Defisit APBN tahun 2022 menurun dibanding tahun 2021. Penerimaan pendapatan negara disusun sebesar Rp1.846.136.669.813.000,00 atau sekitar Rp1.846 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp2.714.155.719.841.000,00 atau sekitar Rp2.714 triliun. Dari jumlah belanja tersebut, dana akan dialokasikan untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.944,5 triliun serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp769,6 triliun. Adapun fokus kebijakan dalam APBN 2022 ialah penanganan kesehatan, perlindungan sosial, peningkatan SDM yang unggul dan berdaya saing, penguatan desentralisasi fiskal, melanjutkan pembangunan infrastruktur, dan melanjutkan reformasi penganggaran dengan menerapkan zero-based budgeting.</p><p>&nbsp;</p><p>Adapun turunnya defisit APBN dari tahun 2021 ke tahun 2022 adalah karena meningkatnya pendapatan negara dari Rp1.743 triliun menjadi Rp1.846 triliun, serta penurunan belanja dari &nbsp;Rp2.750 triliun menjadi Rp2.714 triliun. Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh mulai pulihnya perekonomian akibat keterpurukan pada tahun 2021 yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.</p><p>&nbsp;</p><p>

Berikut penjelasan terkait ringkasan APBN tahun 2021 dan 2022.

 

APBN tahun 2021 disusun dalam keadaan defisit sebesar Rp1.006.379.471.104.000,00 atau sekitar Rp1.006 triliun. Defisit terjadi dikarenakan belanja negara lebih besar dibanding pendapatan negara. Penerimaan pendapatan negara disusun sebesar Rp1.743.648.547.327.000,00 atau sekitar Rp1.743 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp2.750.028.018.431.000,00 atau sekitar Rp2.750 triliun. Dari jumlah belanja tersebut, dana akan dialokasikan untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.954,5 triliun serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp795,5 triliun. Adapun fokus kebijakan dalam APBN 2021 ialah penanganan kesehatan, perlindungan sosial, pemulihan ekonomi, dan reformasi struktural.

 

Sedangkan APBN tahun 2022 disusun dalam keadaan defisit sebesar Rp868.019.050.028.000,00 atau sekitar Rp868 triliun. Defisit APBN tahun 2022 menurun dibanding tahun 2021. Penerimaan pendapatan negara disusun sebesar Rp1.846.136.669.813.000,00 atau sekitar Rp1.846 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp2.714.155.719.841.000,00 atau sekitar Rp2.714 triliun. Dari jumlah belanja tersebut, dana akan dialokasikan untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.944,5 triliun serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp769,6 triliun. Adapun fokus kebijakan dalam APBN 2022 ialah penanganan kesehatan, perlindungan sosial, peningkatan SDM yang unggul dan berdaya saing, penguatan desentralisasi fiskal, melanjutkan pembangunan infrastruktur, dan melanjutkan reformasi penganggaran dengan menerapkan zero-based budgeting.

 

Adapun turunnya defisit APBN dari tahun 2021 ke tahun 2022 adalah karena meningkatnya pendapatan negara dari Rp1.743 triliun menjadi Rp1.846 triliun, serta penurunan belanja dari  Rp2.750 triliun menjadi Rp2.714 triliun. Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh mulai pulihnya perekonomian akibat keterpurukan pada tahun 2021 yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

 


Al F

20 Januari 2023 04:28

tabel APBN ny kak


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Salah satu faktor penghambat perdagangan internasional adalah ....

44

5.0

Jawaban terverifikasi