Moza A

08 Januari 2024 17:49

Moza A

08 Januari 2024 17:49

Pertanyaan

Tentukanlah kuat medan listrik di tengah dua lembar pelat dengan luas tak berhingga yang didekatkan sejarak d satu dari yang lainnya. Mmitan total kedua bahan tersebut sama besar, tetapi berbeda tanda dengan rapat muatan luasan keduanya masing-masing σ dan -σ.

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

01

:

04

:

06

:

23

Klaim

0

0


Empty Comment

Belum ada jawaban 🤔

Ayo, jadi yang pertama menjawab pertanyaan ini!

Mau jawaban yang cepat dan pasti benar?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Temukan jawabannya dari Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Bacalah kedua ulasan berikut dengan saksama! Teks 1 Perjuangan Anak Tanah Belitung Judul : Laskar Pelangi Penulis : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Pustaka Tahun terbit : Cetakan ke-2 September 2011 Halaman : 534 halaman Novel ini karya pertama Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Versi pertamanya dicetak pada tahun 2005 di Yogyakarta dan mengalami penambahan halaman dari 529 menjadi 534 halaman. Novel laskar pelangi ini sering digunakan untuk bahan pidato pengukuhan guru besar, tesis, disertasi, hadiah ulang tahun, bahkan menjadi mas kawin mendampingi Al-qur'an. Tidak heran jika novel tersebut dapat mencapai mega best seller di Indonesia dan bahkan mencapai best seller di Malaysia. Hal itu termasuk sangat luar biasa karena ditulis oleh seorang yang tidak berasal dari lingkungan sastra ditambah lagi novel tersebut sama sekali tidak sejalan dengan tren pasar yang ada pada saat itu. Novel ini bercerita tentang semangat juang dari 11 anak kampung Belitung untuk mengubah nasib mereka melalui sekolah. Sebagian besar orang tua mereka lebih senang melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua dari pada belajar di sekolah. Suramnya pendidikan di desa itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah terancam tutup jika murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang, namun kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan pendidikan di desa itu yang hampir redup karena faktor ekonomi rakyatnya. Anak-anak Laskar Pelangi hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk masa mendatang. Namun, mereka harus tunduk oleh nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan. Kisah berlanjut dan 12 tahun kemudian, Ikal (tokoh utama Laskar Pelangi), justru menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh di luar dugaan. Hal yang menarik dari Laskar Pelangi adalah hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca karena dalam penceritaan isi novel tidak berbelit-belit. Kita dapat mengetahui perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit. Di sisi lain, novel ini juga memiliki kelemahan dari segi penggunaan nama-nama ilmiah dalam ceritaceritanya. Hal ini membuat pembaca kurang nyaman dalam membaca, apalagi glosarium terletak di bagian akhir. Meskipun demikian, novel ini tetap memikat dan penuh dengan motivasi. Novel ini dapat menjadi motivasi bagi siapa saja, khususnya para pelajar karena novel ini mengisahkan perjuangan yang begitu berat yang dialami oleh para tokohnya untuk bersekolah dan menuntut ilmu agar menjadi orang besar dan berguna nantinya. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik. (Dihutip dari zul10ilham.blogspot.com dengan pengubahan) Teks 2 Sebuah Keberanian Berbuah Manis Judul : Laskar Pelangi Sutradara : Riri Riza Produser : Mira Lesmana Pemeran : Zulfani, Ferdian, Veris Yamarno, Cut Mini, Ikranagara, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Lukman Sardi, Ario Bayu, Teuku Rifnu Wikana, Alex Komang, Jajang C, Noer, Roby Tumewu, Yogi Nugraha, M, Syukur Ramadan, Suhendri, Febriansyah, Suharyadi, jefry Yanuar, Dewi Ratih Ayu, Marcella, dan Levina. Durasi : 125 menit Laskar Pelangi adalah sebuah adaptasi dari fenomena sastra berjudul sama tulisan Andrea Hirata. Dengan ekspetasi tinggi dari penggemar novelnya dan sekumpulan pemain ternama yang menyesaki film ini, Laskar Pelangi sudah menjadi hit sejak pertama dibuat. Film ini berlokasi di Belitung, Sumatera dan dibuka dengan tokoh Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang kembali ke tanah kelahirannya setelah merantau. Dia lalu flash back ke masa kecilnya dulu sewaktu masih SD di SD Muhammadiyah yang sederhana dengan 2 guru yang bersahaja, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara). Lima tahun berlalu dan film bercerita tentang anggota Laskar Pelangi yang sudah kelas, melalui sudut pandang lkal kecil (Zulfani). Selain Ikal, ada juga tokoh Lintang (Ferdian) yang amat jenius dan Mahar (Verrys Yamarno) yang menunjukkan bakat seni luar biasa. Tokoh-tokoh yang lain adalah Akiong, Harun, Sahara, dan Kucai. Keputusan penting sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana yang memilih anak-anak asli Belitung sebagai pemain ternyata tepat. Mereka bisa menyelami karakter masing-masing walaupun tidak punya pengalaman akting sebelumnya. Memang, Riri dan Mira terkenal akan kemampuannya mengorbitkan bakat-bakat baru seperti yang terjadi pada Rachel Maryam. Zulfani dan Ferdian menunjukkan penampilan yang luar biasa sebagai orang baru dalam dunia akting tanpa pengalaman. Kepolosan mereka terasa sangat natural, berbeda dengan bintang-bintang cilik lain yang sering mondar-mandir di layar TV kita. Anda pasti tanpa sadar tersenyum saat menyaksikan kisah cinta Ikal dengan seorang gadis Tionghoa yang ditemuinya di pasar, menunjukkan betapa naturalnya penampilan dia. Inti film ini, secara emosional, sebenarnya Lintang. Penonton langsung jatuh cinta sejak kemunculan pertama Ikal di layar. Sebagai anak termiskin dari sebuah komunitas miskin, gayanya yang terengah-engah menggenjot sepeda yang terlalu besar untuknya adalah sebuah scene tak terlupakan. Sementara aktor veteran Ikranagara, memberikan penampilan memukau sebagai Pak Harfan. Dia sukses membawakan karakter guru senior yang bersemangat, baik hati, dan sanggup mengambil hati anak-anak asuhannya. Skenarionya agak berbeda dibanding cerita di novel dengan penambahan beberapa karakter guru yang tidak dituliskan oleh Andrea. Sebuah hal yang wajar, tentu saja. Memang ini film lawas keluaran 2008. Tapi tidak ada ruginya menonton Laskar Pelangi berkali-kali karena film ini memang "beda" dan berani melawan arus utama sinema Indonesia. (Sumber: resensifilmbagus.blogspot.com) Baca kembali kedua ulasan di atas dengan teliti! Kemudian, kemukakan kesanmu pada kedua karya tersebut (film dan novel)! Apakah kamu jadi berminat membaca novel atau menonton film tersebut? Apakah novel dan film tersebut bagus atau tidak? Kemukakan pendapatmu! a. Unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam data-data karya yang diulas?

5

5.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah fabel berikut! Burung Tempua Pada zaman dahulu, di tanah Melayu hiduplah dua ekor burung yang saling bersahabat. Burung tersebut adalah Burung Tempua dan Burung Puyuh. Burung Tempua dan Burung Puyuh merupakan dua burung yang bersahabat sangat dekat. Di mana ada Burung Tempua di sana ada Burung Puyuh. Mereka selalu bepergian bersama, baik untuk mencari makan maupun untuk seke­ dar terbang bersama. Suka duka selalu mereka hadapi bersama, baik saat kehujanan maupun saat cuaca yang panas. Suatu hari, keduanya saling bertemu sambil membincangkan keistimewaan dari sarang ma­sing-masing. "Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi. Jadi, saat hujan tidak akan basah. Saat terik pun tidak akan kepanasan. Aku menghabiskan wak­tu berminggu-minggu untuk membuatnya," kata Burung Tempua. Kedua burung tersebut hanya berpisah pada saat tidur di malam hari. Mereka tidur di sarang mereka masing-masing. Meskipun dalam banyak hal mereka punya satu kesamaan, dalam hal berteduh dan bersarang di malam· hari, keduanya memiliki selera yang berbeda. Sarang Tempua bisanya tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jikalau pun rendah, pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Burung Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Burung Tempua bersarang pada posisi rendah, pastilah ada yang dapat menjaganya. Sebaliknya, Burung Puyuh lebih suka dengan jenis sarang yang praktis. Burung Puyuh merasa tak perlu bersusah payah membangun sarang yang nyaman seperti yang dilakukan oleh Burung Tempua. Ia lebih suka tinggal di sebuah bata,ng pohon yang tumbang. Apabila merasa tempat itu sudah tidak nyaman, biasanya ia akan mencari pohon yang lain. " Dengan sarang berpindah-pin­ dah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari," kata Burung Puyuh. Suatu hari, Burung Tempua ingin mencoba sarang Burung Puyuh. Demikian juga, Burung Puyuh ingin merasakan tinggal di sarang Burung Tempua. Saat Burung Puyuh tinggal di sarang Burung Tempua, Burung Puyuh kesusahan memanjat pohon sarang Burung Tempua yang tergan­ tung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman. Malam pun tiba. Burung Puyuh merasa haus. Ia meminta minum kepada Tempua. "Maaf, tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita," kata Burung Tempua. Puyuh pun tertidur dalam keadaan kehausan. Ketika Burung Puyuh dan Burung Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Po­ hon ternpat sarang Burung Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Bu­ rung Tempua pun terayun-ayun. Burung Puyuh ketakutan dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. "Tenanglah, kawan! Kita tidak akan jatuh," kata Burung Tempua menghibur Burung Puyuh. Tak lama angm pun reda. Keesokan harinya Burung Puyuh berkata, "Maafkan aku, kawan ..., aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh. Lagi pula aku tidak bisa menahan haus." Burung Tempua bisa me­ maklumi alasan Burung Puyuh. Hari berikutnya, Burung Tampua yang tinggal di sarang Burung Puyuh. Burung Tempua merasa tidak nyaman dengan bersarang di bawah batang pohon yang tumbang. Akan tetapi, ia tidak menampakkan rasa tidak nyaman itu. Pada tengah malam, hujan tiba-tiba turun. Tubuh Burung Tempua menggigil. "Kawan, badanku dingin sekali," kata Burung Tempua kepada Burung Puyuh sambil menggigil. "Tenang saja, kawan. Nanti kalau hujan sudah reda, badanmu tidak akan dingin lagi." Keesokan harinya, Burung Tempua pun akhirnya berkata kepada Burung Puyuh, "Maafkan aku, kawan. Sepertinya, aku tidak bisa"tinggal lagi di sarangmu." Dengan penuh pengertian, Bu­ rung Puyuh memahami hal tersebut. Kedua sahabat tersebut akhirnya sadar bahwa setiap makhluk mempunyai karakter dan kesu­ kaan yang berbeda. Keduanya tetap menghargai perbedaan masing-masing dan tetap bersyukur karena masih memiliki banyak kesamaan. 1. Sebutkan tokoh dan karakter tokoh pada cerita "Burung Tempua'' di atas! 2. Nama tokoh : Karakter tokoh : Bukti kutipan kalimat :

1

3.0

Jawaban terverifikasi

Baca dan amatilah dengan saksama teks di bawah ini. Hoegeng Imam Santoso lahir pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia merupakan sulung dari tiga bersaudara, putra pasangan Soekarjo Kario Hatmodjo, seorang jaksa, dan Oemi Kalsoem. Kedua orang tua Hoegeng masih berkerabat dengan lbu Kardinah, adik pahlawan nasional R.A. Kartini. Sebagai anak yang terlahir dari kalangan elite, Hoegeng tidak mengalami banyak kesulitan dalam menuntut ilmu, dari SO sampai perguruan tinggi. Saat di AMS, pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta, ia mengambil jurusan A2, dengan pelajaran mayornya bahasa dan sastra Barat. Kebetulan Hoegeng tipe orang yang mudah mempelajari bahasa. Karena menikmati jurusan yang dipilihnya, ia dapat menguasai banyak bahasa asing. Kemahirannya berbahasa asing ternyata sangat membantu menjalankan tugasnya di kemudian hari, yaitu saat harus berhubungan dengan tentara Belanda atau Sekutu lainnya pada Perang Kemerdekaan. Selama menimba ilmu di Yogya, ia juga mengasah bakatnya dalam bermain musik, khususnya musik Hawaian. Bermain musik baginya bukan sekadar menyalurkan hobi, melainkan untuk mencari tambahan uang saku. Bersama grupnya, ia suka manggung di dekat alun-alun dengan honor 25 gulden sekali main. Ia juga menjual suara di Radio Mataram, Radio NIROM (milik pemerintah Belanda), dan sekali-sekali diundang orang hajatan. Saat mengisi acara di radio NIROM, ia menggunakan nama samaran Hoegy agar mudah diterima di kalangan Belanda. Meski keluarganya tidak berkekurangan, setiap bulan ia hanya mendapat jatah kiriman sebesar tujuh setengah gulden. Selama bersekolah di AMS, ia aktif di berbagai kegiatan dan banyak bersahabat. Setamat AMS, Hoegeng melanjutkan kuliah ke RHS di Batavia, Jakarta. Sebagai keturunan priayi, sebenarnya keluarga berharap Hoegeng masuk sekolah calon pejabat pemerintah (pamong praja). Pendidikan Hoegeng di RHS tidak selesai karena keburu ditutup sehubungan datangnya tentara Jepang. Ia pun memutuskan kembali ke kampung halaman. Sebagai pengisi waktu senggang, ia berniaga kecil-kecilan. Bersama sahabatnya, ia berdagang keliling buku pelajaran berbahasa Jepang dengan sepeda sampai kota tetangga, Pati dan Semarang. Hoegeng mengawali karier di bidang polisi dengan mengikuti kursus yang diselenggarakan Kantor Polisi Keresidenan Pekalongan. Awalnya, ia hanya coba-coba dan sekadar mengisi waktu kosong. Namun, ternyata keputusan mengikuti kursus tersebut menjadi momentum penting. lnilah titik awal perjalanan hidup Hoegeng dalam menapaki karier di bidang kepolisian, yang pada akhirnya membesarkan namanya. Di awal kariernya sebagai polisi, pikiran Hoegeng sempat goyah dan ingin mencoba profesi lain. Namun, kariernya justru semakin kuat setelah mengikuti pendidikan kader tinggi kepolisian di Sukabumi. Tidak sampai dua tahun, ia mengalami kenaikan pangkat empat kali, dari pangkat Minarai Junsabucho menjadi Kei Bun Ho I (Aiptu). Ia juga sempat tergoda meniti karier di AL. Namun, Hoegeng pada akhirnya menyadari panggilan jiwa yang sebenarnya setelah pada suatu kesempatan bertemu dengan Kepala Kepolisian Negara (sekarang Kapolri) R.S. Soekanto. Dengan kebapakan, Soekanto mengajak Hoegeng kembali ke jajaran kepolisian. Wejangan Soekanto demikian membekas di hati, dan Hoegeng pun berketetapan hati kembali ke dunia kepolisian. Meski hanya sesaat menjadi anggota AL, ada peristiwa penting dalam kehidupan Hoegeng. Pada masa ini ia bertemu dengan penyiar radio RRI Yogya bernama Merry yang kemudian menjadi istrinya. Mereka menikah pada 31 Oktober 1946, saat Hoegeng masih berstatus anggota AL. Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School di Amerika Serikat. Sekembalinya dari penugasan belajar itu, dia dipercaya menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatra Utara (1956) di Medan. Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di sana, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepol isian Negara (sekarang Kapolri). Ada kisah menarik kala Hoegeng ditugaskan sebagai Kabareskrim Sumatra Utara. Saat baru turun dari kapal di dermaga Belawan, seseorang yang mengaku utusan kelompok pengusaha Tiongkok mengatakan bahwa rumah dan mobil sudah tersedia. Namun, Hoegeng memiliki firasat buruk di balik pemberian itu. Tawaran menggiurkan ditolak secara halus dan ia meminta barang tersebut disimpan saja. Akan tetapi, cukong-cukong itu merasa keadaan ini gawat karena kedatangan Hoegeng saat itu untuk "membersihkan" Kota Medan. Mereka pun tidak menyerah begitu saja. Ketika Hoegeng hendak memasuki rumah dinasnya yang baru, di dalam sudah penuh dengan berbagai barang perlengkapan, seperti piano, kulkas, radio, kursi tamu, dan sebagainya yang masih berupa barang mewah waktu itu. Hoegeng sontak memerintahkan barang-barang misterius itu segera dikeluarkan dari rumahnya karena barang inventaris negara akan dimasukkan. Sampai tenggang waktu yang ditentukan, barang itu tidak diambil juga. Hoegeng lalu menyuruh ajudan dan kuli mengeluarkan dan meletakkan barang tersebut begitu saja di tepi jalan i depan rumah. Meski sempat tergoda dan merasa sayang, Hoegeng ingat amanah almarhum ayahnya untuk bersikap jujur dan memilih untuk tidak mengkhianati sumpah jabatan sebagai penegak hukum. Meski tidak tahu siapa pengirimnya, Hoegeng paham tujuan pengiriman barang itu. Hoegeng menyadari ia ditugaskan di Medan untuk "membersihkan" kota itu dari maraknya bisnis ilegal, yaitu perjudian dan penyelundupan. Bisnis itu dimodali oleh "Cina Medan" dan disokong banyak oknum tentara dan kepolisian. Selama kepemimpinan Hoegeng sebagai Kapolri, banyak terjadi reformasi di tubuh kepolisian. Hoegeng melakukan pembenahan struktur organisasi di tingkat Mabes Polri menjadi lebih dinamis dan komunikatif. Ia juga mengubah nama pimpinan polisi dan markas besarnya, Panglima Angkatan Kepolisian Rl (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian Rl (Kapolri). Selama menjabat sebagai Kapolri, ada dua kasus besar dan berat yang berhasil ia selesaikan. Kedua kasus itu adalah perkara Sum Kuning yang menggegerkan masyarakat Yogyakarta dan perihal penyelundupan mobil mewah bernilai miliaran rupiah. Tanpa gentar, Hoegeng membongkar dan mengusut kasus-kasus itu, meski ia tahu risiko dari keberaniannya karena ada petinggi-petinggi negeri terlibat. Bahkan, rumor yang beredar menyatakan bahwa penyelundupan mobil mewah itu melibatkan kerabat keluarga RI 1. Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri. Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri pada usia 49 tahun, saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu d iterima Hoegeng secara mendadak. Setelahnya, Hoegeng ditawari menjadi duta besar di sebuah negara di Eropa, tetapi ia menolak karena merasa dirinya seorang polisi dan bukan politisi. Hidup pada masa pensiun orang pertama di kepolisian dengan pangkat tinggi mestinya menyenangkan, seperti banyak dialami pejabat zaman sekarang. Namun, hal itu tidak dialami Hoegeng. Semua barang inventaris yang ia gunakan selama bertugas langsung dikembalikan ke negara begitu selesai sertijab. Hanya rumah kecil nan sederhana di kawasan Menteng yang selama ini menjadi rumah dinasnya karena memang ia belum memiliki rumah sendiri. Dengan uang pensiun yang sangat kecil, Hoegeng menafkahi keluarganya. Untunglah Hoegeng sudah membiasakan keluarganya hidup sederhana. Untuk menopang ekonomi keluarga, mantan Kapolri itu menekuni hobi lamanya yaitu bermain musik dan melukis. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun bisa menjadi milik keluarga Hoegeng. Beberapa Kapolda pun berpatungan membeli mobil Kingswood, satu-satunya mobil yang ia miliki. Hoegeng meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Sebagai mantan pejuang, ia mestinya dimakamkan di taman makam pahlawan. Namun, konon sesuai wasiatnya ia memilih diistirahatkan di pemakaman keluarga. (Diolah dari berbagai sumber) Apakah yang istimewa dalam silsilah keluarga Pak Hoegeng?

4

4.0

Jawaban terverifikasi

Bacalah fabel berikut! Burung Tempua Pada zaman dahulu, di tanah Melayu hiduplah dua ekor burung yang saling bersahabat. Burung tersebut adalah Burung Tempua dan Burung Puyuh. Burung Tempua dan Burung Puyuh merupakan dua burung yang bersahabat sangat dekat. Di mana ada Burung Tempua di sana ada Burung Puyuh. Mereka selalu bepergian bersama, baik untuk mencari makan maupun untuk seke­ dar terbang bersama. Suka duka selalu mereka hadapi bersama, baik saat kehujanan maupun saat cuaca yang panas. Suatu hari, keduanya saling bertemu sambil membincangkan keistimewaan dari sarang ma­sing-masing. "Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi. Jadi, saat hujan tidak akan basah. Saat terik pun tidak akan kepanasan. Aku menghabiskan wak­tu berminggu-minggu untuk membuatnya," kata Burung Tempua. Kedua burung tersebut hanya berpisah pada saat tidur di malam hari. Mereka tidur di sarang mereka masing-masing. Meskipun dalam banyak hal mereka punya satu kesamaan, dalam hal berteduh dan bersarang di malam· hari, keduanya memiliki selera yang berbeda. Sarang Tempua bisanya tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jikalau pun rendah, pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Burung Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Burung Tempua bersarang pada posisi rendah, pastilah ada yang dapat menjaganya. Sebaliknya, Burung Puyuh lebih suka dengan jenis sarang yang praktis. Burung Puyuh merasa tak perlu bersusah payah membangun sarang yang nyaman seperti yang dilakukan oleh Burung Tempua. Ia lebih suka tinggal di sebuah bata,ng pohon yang tumbang. Apabila merasa tempat itu sudah tidak nyaman, biasanya ia akan mencari pohon yang lain. " Dengan sarang berpindah-pin­ dah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari," kata Burung Puyuh. Suatu hari, Burung Tempua ingin mencoba sarang Burung Puyuh. Demikian juga, Burung Puyuh ingin merasakan tinggal di sarang Burung Tempua. Saat Burung Puyuh tinggal di sarang Burung Tempua, Burung Puyuh kesusahan memanjat pohon sarang Burung Tempua yang tergan­ tung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman. Malam pun tiba. Burung Puyuh merasa haus. Ia meminta minum kepada Tempua. "Maaf, tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita," kata Burung Tempua. Puyuh pun tertidur dalam keadaan kehausan. Ketika Burung Puyuh dan Burung Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Po­ hon ternpat sarang Burung Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Bu­ rung Tempua pun terayun-ayun. Burung Puyuh ketakutan dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. "Tenanglah, kawan! Kita tidak akan jatuh," kata Burung Tempua menghibur Burung Puyuh. Tak lama angm pun reda. Keesokan harinya Burung Puyuh berkata, "Maafkan aku, kawan ..., aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh. Lagi pula aku tidak bisa menahan haus." Burung Tempua bisa me­ maklumi alasan Burung Puyuh. Hari berikutnya, Burung Tampua yang tinggal di sarang Burung Puyuh. Burung Tempua merasa tidak nyaman dengan bersarang di bawah batang pohon yang tumbang. Akan tetapi, ia tidak menampakkan rasa tidak nyaman itu. Pada tengah malam, hujan tiba-tiba turun. Tubuh Burung Tempua menggigil. "Kawan, badanku dingin sekali," kata Burung Tempua kepada Burung Puyuh sambil menggigil. "Tenang saja, kawan. Nanti kalau hujan sudah reda, badanmu tidak akan dingin lagi." Keesokan harinya, Burung Tempua pun akhirnya berkata kepada Burung Puyuh, "Maafkan aku, kawan. Sepertinya, aku tidak bisa"tinggal lagi di sarangmu." Dengan penuh pengertian, Bu­ rung Puyuh memahami hal tersebut. Kedua sahabat tersebut akhirnya sadar bahwa setiap makhluk mempunyai karakter dan kesu­ kaan yang berbeda. Keduanya tetap menghargai perbedaan masing-masing dan tetap bersyukur karena masih memiliki banyak kesamaan. 2. di mana dan kapan latar tempat dan latar waktu pada cerita "Burung iempua": a. Latar Waktu: ....................................................................

2

0.0

Jawaban terverifikasi