Anindita A

07 November 2024 06:11

Anindita A

07 November 2024 06:11

Pertanyaan

1. kapan awal dan akhir dari peristiwa di/tii di Kalimantan Selatan 2. Bagaimana proses awal dan akhir dari peristiwa di/tii di Kalimantan Selatan,serta dampaknya

1. kapan awal dan akhir dari peristiwa di/tii di Kalimantan Selatan

2. Bagaimana proses awal dan akhir dari peristiwa di/tii di Kalimantan Selatan,serta dampaknya

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

02

:

14

:

08

:

27

Klaim

5

2

Jawaban terverifikasi

Nanda R

Community

07 November 2024 12:41

Jawaban terverifikasi

<p>1. <strong>Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan</strong></p><p>Peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Kalimantan Selatan terjadi antara <strong>1950 hingga 1960</strong>.</p><p><strong>Awal Peristiwa</strong>: DI/TII di Kalimantan Selatan bermula pada <strong>1950</strong>, ketika para pejuang yang sebelumnya terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia merasa kecewa dengan pemerintahan Republik Indonesia. Mereka menuntut penerapan syariat Islam secara keseluruhan di Indonesia dan mendirikan negara Islam Indonesia. Para pemimpin DI/TII di Kalimantan Selatan seperti <strong>Ibnu Hajar</strong> dan <strong>Kahar Muzakkar</strong> menjadi tokoh penting dalam pemberontakan ini.</p><p><strong>Akhir Peristiwa</strong>: Perjuangan DI/TII di Kalimantan Selatan berakhir pada <strong>1960</strong>, ketika pasukan pemerintah Indonesia berhasil mengalahkan kelompok DI/TII di wilayah tersebut, dan banyak anggota DI/TII yang menyerah. <strong>Kahar Muzakkar</strong>, pemimpin utama DI/TII di Kalimantan Selatan, akhirnya tewas dalam pertempuran pada <strong>22 Februari 1965</strong>.</p><p>2. <strong>Proses Awal dan Akhir Peristiwa, serta Dampaknya</strong></p><p><strong>Proses Awal Peristiwa</strong>:</p><ul><li>Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak pejuang kemerdekaan merasa kecewa dengan pemerintahan yang dianggap tidak memenuhi janji-janji kemerdekaan, termasuk ketidakmampuan untuk menegakkan syariat Islam di negara ini.</li><li>Gerakan ini dimulai dengan beberapa serangan bersenjata terhadap pemerintah, serta pembentukan basis pertahanan di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan.</li><li>DI/TII di Kalimantan Selatan mengklaim bahwa mereka berjuang untuk mendirikan negara Islam Indonesia dan menentang pemerintahan yang dianggap tidak Islamik.</li></ul><p><strong>Proses Akhir Peristiwa</strong>:</p><ul><li>Pemerintah Indonesia melalui militer mulai mengerahkan kekuatan lebih besar untuk menanggulangi pemberontakan ini.</li><li>Pada 1960-an, sebagian besar pasukan DI/TII di Kalimantan Selatan mulai menyerah atau ditangkap, namun beberapa tokoh utama seperti <strong>Kahar Muzakkar</strong> terus melakukan perlawanan hingga akhirnya terbunuh pada 1965.</li><li>Setelah Kahar Muzakkar tewas, perlawanan DI/TII di Kalimantan Selatan secara efektif berakhir.</li></ul><p><strong>Dampak Peristiwa</strong>:</p><ul><li><strong>Dampak Sosial</strong>: Pemberontakan ini menimbulkan ketegangan dan kerusuhan sosial di Kalimantan Selatan. Banyak masyarakat yang terjebak dalam konflik ini, baik sebagai pendukung maupun korban kekerasan.</li><li><strong>Dampak Politik</strong>: DI/TII di Kalimantan Selatan menjadi salah satu episode penting dalam sejarah politik Indonesia pasca kemerdekaan. Peristiwa ini menggambarkan tantangan yang dihadapi negara baru Indonesia dalam menjaga kesatuan dan keberagaman, serta tantangan dalam membangun negara yang inklusif bagi berbagai kelompok.</li><li><strong>Dampak Militer</strong>: Pemerintah Indonesia memperkuat kehadiran militer di wilayah-wilayah yang terlibat konflik, dan mengembangkan strategi untuk menanggulangi pemberontakan bersenjata di masa depan.</li><li><strong>Dampak Agama</strong>: Peristiwa DI/TII juga mempengaruhi pandangan terhadap Islam di Indonesia, dengan munculnya ketegangan antara kelompok Islam radikal dan pemerintah yang lebih sekuler pada masa itu.</li></ul><p>&nbsp;</p>

1. Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan

Peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Kalimantan Selatan terjadi antara 1950 hingga 1960.

Awal Peristiwa: DI/TII di Kalimantan Selatan bermula pada 1950, ketika para pejuang yang sebelumnya terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia merasa kecewa dengan pemerintahan Republik Indonesia. Mereka menuntut penerapan syariat Islam secara keseluruhan di Indonesia dan mendirikan negara Islam Indonesia. Para pemimpin DI/TII di Kalimantan Selatan seperti Ibnu Hajar dan Kahar Muzakkar menjadi tokoh penting dalam pemberontakan ini.

Akhir Peristiwa: Perjuangan DI/TII di Kalimantan Selatan berakhir pada 1960, ketika pasukan pemerintah Indonesia berhasil mengalahkan kelompok DI/TII di wilayah tersebut, dan banyak anggota DI/TII yang menyerah. Kahar Muzakkar, pemimpin utama DI/TII di Kalimantan Selatan, akhirnya tewas dalam pertempuran pada 22 Februari 1965.

2. Proses Awal dan Akhir Peristiwa, serta Dampaknya

Proses Awal Peristiwa:

  • Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak pejuang kemerdekaan merasa kecewa dengan pemerintahan yang dianggap tidak memenuhi janji-janji kemerdekaan, termasuk ketidakmampuan untuk menegakkan syariat Islam di negara ini.
  • Gerakan ini dimulai dengan beberapa serangan bersenjata terhadap pemerintah, serta pembentukan basis pertahanan di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan.
  • DI/TII di Kalimantan Selatan mengklaim bahwa mereka berjuang untuk mendirikan negara Islam Indonesia dan menentang pemerintahan yang dianggap tidak Islamik.

Proses Akhir Peristiwa:

  • Pemerintah Indonesia melalui militer mulai mengerahkan kekuatan lebih besar untuk menanggulangi pemberontakan ini.
  • Pada 1960-an, sebagian besar pasukan DI/TII di Kalimantan Selatan mulai menyerah atau ditangkap, namun beberapa tokoh utama seperti Kahar Muzakkar terus melakukan perlawanan hingga akhirnya terbunuh pada 1965.
  • Setelah Kahar Muzakkar tewas, perlawanan DI/TII di Kalimantan Selatan secara efektif berakhir.

Dampak Peristiwa:

  • Dampak Sosial: Pemberontakan ini menimbulkan ketegangan dan kerusuhan sosial di Kalimantan Selatan. Banyak masyarakat yang terjebak dalam konflik ini, baik sebagai pendukung maupun korban kekerasan.
  • Dampak Politik: DI/TII di Kalimantan Selatan menjadi salah satu episode penting dalam sejarah politik Indonesia pasca kemerdekaan. Peristiwa ini menggambarkan tantangan yang dihadapi negara baru Indonesia dalam menjaga kesatuan dan keberagaman, serta tantangan dalam membangun negara yang inklusif bagi berbagai kelompok.
  • Dampak Militer: Pemerintah Indonesia memperkuat kehadiran militer di wilayah-wilayah yang terlibat konflik, dan mengembangkan strategi untuk menanggulangi pemberontakan bersenjata di masa depan.
  • Dampak Agama: Peristiwa DI/TII juga mempengaruhi pandangan terhadap Islam di Indonesia, dengan munculnya ketegangan antara kelompok Islam radikal dan pemerintah yang lebih sekuler pada masa itu.

 


Rendi R

Community

19 November 2024 13:54

Jawaban terverifikasi

<p><strong>1. Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan</strong></p><p><strong>Awal Peristiwa:</strong><br>Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dimulai pada <strong>1950</strong>, dipimpin oleh <strong>Ibnu Hajar</strong>. Ia adalah seorang mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kecewa terhadap pemerintah pusat karena merasa perjuangannya kurang dihargai dan tidak puas dengan kondisi setelah kemerdekaan. Ibnu Hajar kemudian membentuk kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan gerakan <strong>Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)</strong> di bawah pimpinan Kartosuwiryo.</p><p><strong>Akhir Peristiwa:</strong><br>Pemberontakan ini berakhir pada <strong>1963</strong>, setelah Ibnu Hajar tertangkap oleh pemerintah. Ia kemudian dihukum mati pada <strong>20 Maret 1965</strong>. Operasi militer yang dilancarkan oleh pemerintah berhasil memadamkan perlawanan kelompok ini, meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun karena medan Kalimantan yang sulit dan dukungan lokal terhadap pemberontak.</p><p><strong>2. Proses Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan</strong></p><p><strong>Proses Awal</strong></p><p><strong>Latar Belakang:</strong></p><ul><li>Kekecewaan Ibnu Hajar terhadap pemerintah pusat atas kebijakan integrasi tentara lokal (eks-laskar) ke dalam TNI.</li><li>Keinginan untuk mendirikan negara Islam sesuai ideologi <strong>Darul Islam</strong>.</li></ul><p><strong>Pendirian Gerakan:</strong></p><ul><li>Ibnu Hajar mendirikan kelompok bersenjata yang berbasis di daerah pedalaman Kalimantan Selatan.</li><li>Kelompok ini menggunakan strategi gerilya dengan memanfaatkan medan hutan yang sulit dijangkau untuk melancarkan serangan terhadap pemerintah.</li></ul><p><strong>Proses Akhir</strong></p><p><strong>Operasi Militer:</strong></p><ul><li>Pemerintah pusat mengerahkan operasi militer besar-besaran untuk memadamkan pemberontakan.</li><li>Pasukan TNI menggunakan strategi pengepungan dan serangan langsung ke basis kelompok DI/TII.</li></ul><p><strong>Penangkapan Pemimpin:</strong></p><ul><li>Ibnu Hajar berhasil ditangkap pada <strong>1963</strong>, yang mengakibatkan melemahnya kekuatan pemberontak.</li><li>Setelah itu, kelompok pemberontak kehilangan koordinasi dan dukungan sehingga pemberontakan di Kalimantan Selatan berakhir.</li></ul><p><strong>3. Dampak Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan</strong></p><p><strong>Dampak Politik:</strong></p><ul><li>Mengganggu stabilitas politik dan keamanan di Kalimantan Selatan, terutama pada masa awal kemerdekaan.</li><li>Membuat pemerintah pusat meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan separatis lain di Indonesia.</li></ul><p><strong>Dampak Sosial:</strong></p><ul><li>Terjadi ketidakstabilan sosial akibat konflik bersenjata, yang menyebabkan ketakutan dan kerugian bagi masyarakat lokal.</li><li>Sebagian masyarakat terjebak dalam posisi sulit antara mendukung pemerintah atau kelompok pemberontak.</li></ul><p><strong>Dampak Ekonomi:</strong></p><ul><li>Perang gerilya yang dilakukan kelompok DI/TII mengganggu aktivitas ekonomi di daerah pedalaman Kalimantan Selatan.</li><li>Perdagangan lokal dan aktivitas pertanian terganggu akibat serangan pemberontak dan operasi militer.</li></ul><p><strong>Dampak Militer:</strong></p><ul><li>Memberikan pelajaran penting bagi pemerintah Indonesia untuk memperbaiki strategi integrasi pasca-revolusi kemerdekaan, terutama bagi eks-laskar yang tidak puas.</li><li>Operasi militer di Kalimantan Selatan menjadi bagian dari pengalaman TNI dalam menangani konflik di medan yang sulit seperti hutan dan pedalaman.</li></ul><p><strong>Kesimpulan:</strong></p><p>Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan berlangsung dari <strong>1950 hingga 1963</strong>, dipimpin oleh Ibnu Hajar, yang kecewa dengan kebijakan pemerintah. Pemberontakan ini dihentikan melalui operasi militer intensif, diakhiri dengan penangkapan Ibnu Hajar. Dampaknya meliputi gangguan stabilitas politik, kerugian sosial, dan ekonomi, tetapi juga memberikan pelajaran penting bagi pemerintah dan TNI dalam menangani pemberontakan di masa depan.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</p>

1. Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan

Awal Peristiwa:
Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dimulai pada 1950, dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ia adalah seorang mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kecewa terhadap pemerintah pusat karena merasa perjuangannya kurang dihargai dan tidak puas dengan kondisi setelah kemerdekaan. Ibnu Hajar kemudian membentuk kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan Kartosuwiryo.

Akhir Peristiwa:
Pemberontakan ini berakhir pada 1963, setelah Ibnu Hajar tertangkap oleh pemerintah. Ia kemudian dihukum mati pada 20 Maret 1965. Operasi militer yang dilancarkan oleh pemerintah berhasil memadamkan perlawanan kelompok ini, meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun karena medan Kalimantan yang sulit dan dukungan lokal terhadap pemberontak.

2. Proses Awal dan Akhir Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan

Proses Awal

Latar Belakang:

  • Kekecewaan Ibnu Hajar terhadap pemerintah pusat atas kebijakan integrasi tentara lokal (eks-laskar) ke dalam TNI.
  • Keinginan untuk mendirikan negara Islam sesuai ideologi Darul Islam.

Pendirian Gerakan:

  • Ibnu Hajar mendirikan kelompok bersenjata yang berbasis di daerah pedalaman Kalimantan Selatan.
  • Kelompok ini menggunakan strategi gerilya dengan memanfaatkan medan hutan yang sulit dijangkau untuk melancarkan serangan terhadap pemerintah.

Proses Akhir

Operasi Militer:

  • Pemerintah pusat mengerahkan operasi militer besar-besaran untuk memadamkan pemberontakan.
  • Pasukan TNI menggunakan strategi pengepungan dan serangan langsung ke basis kelompok DI/TII.

Penangkapan Pemimpin:

  • Ibnu Hajar berhasil ditangkap pada 1963, yang mengakibatkan melemahnya kekuatan pemberontak.
  • Setelah itu, kelompok pemberontak kehilangan koordinasi dan dukungan sehingga pemberontakan di Kalimantan Selatan berakhir.

3. Dampak Peristiwa DI/TII di Kalimantan Selatan

Dampak Politik:

  • Mengganggu stabilitas politik dan keamanan di Kalimantan Selatan, terutama pada masa awal kemerdekaan.
  • Membuat pemerintah pusat meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan separatis lain di Indonesia.

Dampak Sosial:

  • Terjadi ketidakstabilan sosial akibat konflik bersenjata, yang menyebabkan ketakutan dan kerugian bagi masyarakat lokal.
  • Sebagian masyarakat terjebak dalam posisi sulit antara mendukung pemerintah atau kelompok pemberontak.

Dampak Ekonomi:

  • Perang gerilya yang dilakukan kelompok DI/TII mengganggu aktivitas ekonomi di daerah pedalaman Kalimantan Selatan.
  • Perdagangan lokal dan aktivitas pertanian terganggu akibat serangan pemberontak dan operasi militer.

Dampak Militer:

  • Memberikan pelajaran penting bagi pemerintah Indonesia untuk memperbaiki strategi integrasi pasca-revolusi kemerdekaan, terutama bagi eks-laskar yang tidak puas.
  • Operasi militer di Kalimantan Selatan menjadi bagian dari pengalaman TNI dalam menangani konflik di medan yang sulit seperti hutan dan pedalaman.

Kesimpulan:

Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan berlangsung dari 1950 hingga 1963, dipimpin oleh Ibnu Hajar, yang kecewa dengan kebijakan pemerintah. Pemberontakan ini dihentikan melalui operasi militer intensif, diakhiri dengan penangkapan Ibnu Hajar. Dampaknya meliputi gangguan stabilitas politik, kerugian sosial, dan ekonomi, tetapi juga memberikan pelajaran penting bagi pemerintah dan TNI dalam menangani pemberontakan di masa depan.

 

 


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

LATIHAN SOAL GRATIS!

Drill Soal

Latihan soal sesuai topik yang kamu mau untuk persiapan ujian

Cobain Drill Soal

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

1.) jika ditinjau dari aspek politis, apa yang menjadi tujuan Belanda memperkenankan orang pribumi dapat bersekolah? 2.) berikan argumen yang menyatakan bahwa indische partij dianggap sebagai salah satu bagian terpenting dalam sejarah nasional indonesia 3.) Berikan argumen yang menyatakan bahwa Perhimpunan Indonesia dianggap sebagai salah satu bagian terpenting dalam sejarah nasional Indonesia! 4.) Apa yang dimaksud dengan masa radikal dalam pergerakan nasional Indonesia? Lalu bagaimana reaksi pemerintah kolonial menghadapinya! -masa radikal itu adalah

15

0.0

Jawaban terverifikasi

1. penyebab perubahan sosial budaya yang berasal dari masyarakat yang berkaitan demografi 2. penyebab perubahan sosial budaya yang terkait dengan fenomena globalisasi 3. Tanda-tanda sikap mental masyarakat yang belum siap menerima kemajuan teknologi 4. Dampak modernisasi dalam kehidupan sosial masyarakat 5. Kegiatan manusia di bidang ekonomi yang menunjukkan perubahan ke arah modernisasi 6. Contoh pengaruh modernisasi di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan terhadap pola pikir masyarakat 7. Konsep mengenai proses modernisasi di masyarakat seringkali mengalami kesalahan pahaman, salah satunya kesalahan tersebut menganggap jika menjadi modern adalah mengikuti... 8. arti dari globalisasi 9. Bentuk kearifan lokal di wilayah Madura yang berperan dalam pengelolaan SDA dan dukungan dalam bentuk kebudayaan 10. Syarat menjaga tradisi kearifan lokal di Nusantara 11. Ciri uang kartal, giral 12. Syarat melakukan kegiatan barter 13. Arti dari durability yang merupakan syarat sebuah benda bisa dikatakan sebagai uang 14. maksud token money dalam nilai intrinsik 15. maksud dengan satuan hitung dalam fungsi uang 16. fungsi uang 17. peranan dan maksud didirikan lembaga keuangan non-Bank / bukan bank 18. maksud dengan kegiatan menghimpun dana yang dilakukan perbankan 19. tugas Bank Indonesia 20. tugas Bank Umum 21. kegiatan lembaga keuangan non-Bank 22. kelembagaan keuangan non-bank yang memiliki kegiatan yang dilakukan dengan operasi simpan pinjam 23. Lembaga keuangan non bank yang memiliki fungsi sebagai penggerak investasi dengan memperhatikan dan memasukan surat berharga 24. Nama lembaga keuangan non bank yang bertugas mengatasi para rensumen 25. Ciri" dari masyarakat ekonomi abad ke 21

31

5.0

Jawaban terverifikasi

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan moneter .... a. Ekspansif dengan menaikkan reserve requirement ratio b. Ekspansif dengan menurunkan reserve requirement ratio c. Kontraktif dengan menaikkan reserve requirement ratio d. Kontraktif dengan menurunkan reserve requirement ratio e. Ekspansif dengan menaikkan tingkat diskonto Bila Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter ekspansif, ceteris paribus maka .... a. Menimbulkan inflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas b. Menimbulkan deflasi di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas c. Tingkat bunga meningkat di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas d. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) naik dari kiri bawah ke kanan atas e. Tingkat bunga turun di mana bentuk kurva jumlah uang beredar (penawaran uang) vertikal Kebijakan fiskal kontraktif dilakukan dengan cara .... a. Menurunkan pengeluaran pemerintah (G), menambah pembayaran transfer (Tr) dan meningkatkan pemungutan pajak (Tx) b. Menurunkan G, mengurangi Tr, dan meningkatkan Tx c. Menurunkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx d. Meningkatkan G, mengurangi Tr, dan menurunkan Tx e. Meningkatkan G, menambah Tr, dan menurunkan Tx Cara yang dilakukan kebijakan tingkat diskonto oleh Bank Sentral dalam melakukan kebijakan moneter adalah .... a. Mengatur jumlah pemberian kredit b. Menetapkan harga surat-surat berharga di pasar uang c. Menetapkan giro wajib minimum (reserved requirement ratio) d. Mengatur tingkat bunga tabungan e. Mengatur tingkat bunga pinjaman bank sentral kepada bank umum Perhatikan beberapa pernyataan berikut. 1). Menaikkan tarif pajak. 2). Diversifikasi pajak. 3). Menaikkan suku bunga. 4). Politik pasar terbuka. 5). Mengadakan diskriminasi harga. Yang termasuk kebijakan fiskal adalah .... a. 1) dan 2) b. 2) dan 3) c. 3) dan 4) d. 3) dan 5) e. 4) dan 5) Investasi bank lesu, daya beli melemah akan berdampak kepada apresiasi rupiah terhadap mata uang asing memburuk. Kebijakan moneter yang paling tepat dilakukan pemerintah adalah .... a. Menaikkan suku bunga bank b. Membeli surat berharga c. Memberikan subsidi kepada masyarakat d. Membatasi pengeluaran negara e. Menaikkan pajak penghasilan Akibat yang ditimbulkan dari kebijakan fiskal ekspansif bila tidak diikuti dengan kebijakan moneter yang ekspansif adalah .... a. Output bertambah, suku bunga tetap b. Output bertambah, suku bunga turun c. Output bertambah, suku bunga naik d. Output turun, suku bunga naik e. Output turun, suku bunga turun Di bawah ini yang tidak termasuk jenis kebijakan moneter berhubungan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar di masyarakat, adalah .... a. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary Expansive Policy) b. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation) c. Kebijakan moneter kontraktif (Monetary Contractive Policy)/ Tight Money Policy d. Fasilitas diskonto (Discount Rate) e. Meningkatkan jumlah barang di pasar output Pada saat nilai rupiah terhadap dolar mengalami pelemahan dari Rp10.500,00 menjadi Rp11.760,00 harga barang impor mengalami kenaikan. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah .... a. Memborong dolar Amerika di pasar uang untuk membayar utang b. Meningkatkan produksi barang dan jasa bagi masyarakat c. Membeli surat berharga jangka panjang di pasar modal d. Menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan e. Menurunkan suku bunga tabungan dan pinjaman Ketika kebutuhan kedelai meningkat dan petani gagal panen karena terserang hama maka pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri yang harganya lebih mahal. Kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah .... a. Menentukan tarif pajak kedelai lebih rendah dari sebelumnya b. Menentukan standar harga kedelai dari yang rendah sampai mahal c. Memberikan subsidi kepada petani yang menghasilkan kedelai d. Meningkatkan produktivitas kedelai dengan mengganti tanaman padi e. Membatasi impor kedelai dan meningkatkan ekspor ke luar negeri Operasi pasar terbuka dalam pengendalian uang yang beredar dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara .... a. Membeli surat berharga pemerintah dan Menjual surat-surat berharga pemerintah b. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menjual surat-surat berharga pemerintah c. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah d. Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Membeli surat berharga pemerintah e. Menaikkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum dan Menurunkan tingkat bunga Bank Sentral pada bank umum Perhatikan pernyataan berikut. 1). Politik diskonto 2). Menaikkan pajak 3). Politik pasar terbuka 4). Menaikkan cash ratio 5). Meningkatkan impor 6). Meningkatkan pinjaman Dari cara yang diterapkan pemerintah tersebut, yang merupakan kebijakan moneter adalah .... a. 1), 2), dan 3) b. 1), 3), dan 4) c. 2), 4), dan 5) d. 3), 4), dan 5) e. 4), 5), dan 6) Kondisi saat pemerintah sebaiknya tidak memberlakukan kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter adalah .... a. Ekonomi mengalami deflasi b. Perekonomian berada dibawah output potensialnya c. Tidak terjadi inflasi dan tingkat pengangguran berada dibawah target tingkat pengangguran d. Tingkat pengangguran berada diatas target tingkat pengangguran e. Ekonomi mengalami inflasi Bank sentral memasok dana ke dalam cadangan perbankan sebesar Rp10 triliun, pada saat yang sama bank sentral menetapkan rasio kebutuhan cadangan sebesar 2%. Dari proses penciptaan uang, jumlah uang yang beredar dapat bertambah sebesar .... a. Rp10,2 triliun b. Rp12 triliun c. Rp50 triliun d. Rp102 triliun e. Rp500 triliun Bank X menerima tambahan deposit Rp500 juta dan menyalurkannya sebagai kredit pada nasabah A setelah dikurangi cadangan wajib perbankan 10%. Bila A menyimpan pinjamannya pada Bank Y dan bank ini menyisihkan cadangan dengan rasio yang sama, dan menyalurkan sebagai kredit, begitu seterusnya. Jumlah uang yang beredar adalah .... a. 50 juta b. 500 juta c. 1.000 juta d. 5.000 juta e. 50.000 juta Apabila GWM atau reserve requirement bank-bank umum sebesar 5%, maka multiplier deposit adalah sebesar .... a. 5 b. 10 c. 15 d. 20 e. 25 Jika GWM dinaikkan dari 5% menjadi 10 %, maka .... a. Multiplier naik menjadi 10 kali b. Multiplier turun menjadi 10 kali c. Multiplier tetap d. Multiplier naik menjadi 50 kali e. Multiplier turun menjadi 5 kali Jika defisit riil senilai Rp100 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 7.5% dan defisit nominal senilai Rp400 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp1 Triliun b. Rp2 Triliun c. Rp3 Triliun d. Rp4 Triliun e. Rp5 Triliun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,- Untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, pemerintah dalam hal ini Bank Sentral dapat menggunakan berbagai macam kebijakan moneter. Ketika terjadi inflasi salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah menginstruksikan bank umum untuk menambah cadangan/persediaan kas (cash ratio policy). Dampak dari penerapan kebijakan tersebut adalah .... a. Jumlah uang yang beredar akan bertambah sehingga harga barang akan mengalami penurunan b. Harga barang akan mengalami penurunan sebagai akibat jumlah uang yang beredar berkurang c. Penambah cadangan pada bank umum menimbulkan jumlah uang semakin banyak beredar d. Jumlah barang akan semakin banyak beredar sebagai akibat dari kelangkaan jumlah uang e. Penambahan jumlah barang tidak dapat dihindari karena modal perusahaan semakin bertambah Apabila diketahui bahwa Indonesia mengalami defisit anggaran nominal (nominal deficit) sebesar Rp400 Triliun, defisit anggaran riil (real deficit) sebesar Rp360 Triliun, dan total utang Indonesia mencapai Rp2.000 Triliun, maka tingkat inflasi Indonesia mencapai .... a. 0,5% b. 1,0% c. 1,5% d. 2,0% e. 2,5% Jika defisit riil senilai Rp200 Miliar dengan tingkat inflasi sebesar 10% dan defisit nominal senilai Rp800 Miliar, maka total utang akan sebesar .... a. Rp3 Triliun b. Rp4 Triliun c. Rp5 Triliun d. Rp6 Triliun e. Rp8 Triliun Berikut ini adalah berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh institusi Bank Indonesia sebagai bank sentral, kecuali .... a. Operasi pasar terbuka b. Menetapkan giro wajib minimum c. Menjual saham d. Kebijakan tingkat diskonto e. Pengawasan kredit secara selektif Apabila tingkat inflasi pada 2020 adalah 10 % dan kemudian pada 2021 menjadi 7 %, manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat? a. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga turun b. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga naik c. Tingkat inflasi turun dan tingkat harga tetap d. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga naik e. Tingkat inflasi meningkat dan tingkat harga turun Misalkan sistem perbankan memiliki Rp100.000.000,- dalam bentuk simpanan dan Rp35.000.000,- dalam bentuk cadangan, sedangkan giro wajib minimum (GWM) adalah 20% dan masyarakat diasumsikan tidak menyimpan uang dalam bentuk kas, nilai maksimum yang dapat ditambahkan oleh bank ke dalam penawaran uang adalah sebesar .... a. Rp15.000.000,- b. Rp75.000.000,- c. Rp175.000.000,- d. Rp500.000.000,- e. Rp675.000.000,-

13

0.0

Jawaban terverifikasi