Naazira A

18 November 2024 08:17

Naazira A

18 November 2024 08:17

Pertanyaan

Cara saya menjawab dan cerpen dengan 4 tokoh masih bingung memilih cerpen apa?

Cara saya menjawab dan cerpen dengan 4 tokoh masih bingung memilih cerpen apa? 

alt

Ikuti Tryout SNBT & Menangkan E-Wallet 100rb

Habis dalam

00

:

12

:

06

:

58

Klaim

1

2

Jawaban terverifikasi

M. R

18 November 2024 11:43

Jawaban terverifikasi

<p><strong>Contoh Cerpen berjudul Hutan Merah karya Fauzia. A</strong></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Hei, lihat itu!”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.</p><p>Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya..</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Cepat pergi, Bora!”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Jangan, Bora!” bentak Pipin</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <i>Kraaak! Braaak!</i></p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; “Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.</p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.</p><p>Contoh cerpen seperti berikut!</p><p>&nbsp;</p>

Contoh Cerpen berjudul Hutan Merah karya Fauzia. A

       Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.

       Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.

       “Hei, lihat itu!”

       Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

       Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!

       “Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya..

       Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

       Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

       “Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.

       “I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.

       “Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

       Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”

       Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.

       “Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.

       Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

       “Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.

       “Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

       “Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

       “Cepat pergi, Bora!”

       “Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.

       “Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”

       “Jangan, Bora!” bentak Pipin

       Kraaak! Braaak!

       “IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

       “Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.

       Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

Contoh cerpen seperti berikut!

 


M. R

18 November 2024 11:47

Jawaban terverifikasi

tokoh: 1. bora 2. dodo 3. ibu 4..pipin latar cerita: hutan tempat : hutan waktu : siang suasana : panas

Jarvinia C

20 November 2024 14:47

Jawaban terverifikasi

<p>Temanya Taman permen</p><p>Rencana cerita awal pada hari minggu Siti Riri dan Titi ingin pergi ke taman permen &nbsp;tengah:Disitu ada dua pilihin ada taman permen dan taman sayur. Siti dan Riri pergi ke taman sayur agar mereka kuat tetapi Titi ingin pergi ke taman permen agar Titi bisa makan permen sepuasnya. Lalu mereka pulang ke rumahnya masing masing. &nbsp; &nbsp;</p><p>Akhir: Siti dan Riri rajinenyikat giginya tetapi Titi malas menyikat gigi. Pada keesokan paginya mereka pergi ke taman. Seperti biasanya Siti da Riri pergi ke taman sayur. Titi pergi ke taman permen.&nbsp;</p><p>Tiba tiba saat Titi makan permen tiba tiba Datang robot Jahat 👹 Siti dan Riri melihat temannya yang dinggangu oleh robot 👹&nbsp;</p><p>Lalu Robot baik pun datang dan memudahkan robot jahat. Robot baik pun berpesan kepada Titi agar rajin menyikat giginya. Tamat</p>

Temanya Taman permen

Rencana cerita awal pada hari minggu Siti Riri dan Titi ingin pergi ke taman permen  tengah:Disitu ada dua pilihin ada taman permen dan taman sayur. Siti dan Riri pergi ke taman sayur agar mereka kuat tetapi Titi ingin pergi ke taman permen agar Titi bisa makan permen sepuasnya. Lalu mereka pulang ke rumahnya masing masing.    

Akhir: Siti dan Riri rajinenyikat giginya tetapi Titi malas menyikat gigi. Pada keesokan paginya mereka pergi ke taman. Seperti biasanya Siti da Riri pergi ke taman sayur. Titi pergi ke taman permen. 

Tiba tiba saat Titi makan permen tiba tiba Datang robot Jahat 👹 Siti dan Riri melihat temannya yang dinggangu oleh robot 👹 

Lalu Robot baik pun datang dan memudahkan robot jahat. Robot baik pun berpesan kepada Titi agar rajin menyikat giginya. Tamat


Mau pemahaman lebih dalam untuk soal ini?

Tanya ke AiRIS

Yuk, cobain chat dan belajar bareng AiRIS, teman pintarmu!

Chat AiRIS

Roboguru Plus

Dapatkan pembahasan soal ga pake lama, langsung dari Tutor!

Chat Tutor

Perdalam pemahamanmu bersama Master Teacher
di sesi Live Teaching, GRATIS!

Pertanyaan serupa

Jawab cepat dan jelaskan dengan benar

2

5.0

Jawaban terverifikasi

26. Ciri" masyarakat lembaga abad 21 27. 3 pilar fondasi dalam berinteraksi dan dana digital 28. Kemampuan pengangkutan barang dagangan bisa menjadi optimal dan efisien, hal ini merupakan kemajuan teknologi dalam sistem perdagangan di bidang 29. Maksud kartu kredit 30. Manfaat penggunaan teknologi informasi di bidang perdagangan bagi masyarakat 31. Keuntungan menggunakan ATM dan kartu debit dalam pembayaran 32. Prinsip" sistem pembayaran yang di terapkan oleh bank indonesia dan mencegah terjadinya kegiatan praktek monopoli dalam industri sistem perdagangan 33. Tujuan dari lembaga OJK 34. Maksud cek bank 35. Kelebihan uang elektronik sebagai alat pembayaran 36. Penyebab dari rendahnya tingkat presentase penggunaan layanan keuangan di indonesia di bandingkan dengan negara lain di ASEAN 37. Maksud dengan flash livevitate dalam tingkatan kemampuan literasi keuangan 38. Cara meningkatkan akses keuangan digital di indonesia yang masih rendah 39. Maksud dengan while literate 40. Tujuan dari adanya literasi keuangan 41. Penyebab perubahan sosial yang terkait dengan fenomena globalisasi 42. Seringkali terdapat beberapa kesalahpahaman konsep mengenal modernisasi di masyarakat, salah satunya menganggap jika modern adalah dengan 43. contoh perilaku yg bisa kita lakukan dalam kesendirian untuk ikut menjaga tradisi di kearifan lokal Nusantara 44. perubahan sosial merupakan penekanan kondisi teknologi yang menyebabkan perubahan pada aspek tertentu dalam kehidupan sosial manusia, definisi trsbt merupakan pendapat dari siapa 45. perubahan sosial yang berpengaruh kecil terhadap kehidupan manusia 46. fungsi asli uang 47. pengertian lending dlm per bank - an 48. beberapa kegiatan yang dilakukan keuangan 49. sebutkan pengertian dari : 1. asuransi 2. lesing 3.inden 4. sewa 50. peran bank dlm menyalurkan kredit ke nasabah

5

5.0

Jawaban terverifikasi